Home » Berita Terpopuler » Wawancara Bupati Hugua Soal 3 Seminar Internaional

Wawancara Bupati Hugua Soal 3 Seminar Internaional

Direktur UNESCO Asia   Pacific Office   Prof.  Dr. Shahbaz Khan Membuka Secara Resmi  Seminar  International  Cagar Biosfir,  General Asembly LGN  CTI CFF dan FGD ASWINDO  di Wakatobi

Pada tanggal 2  ‑ 4 Juni 2016,  Bupati  Wakatobi  ( Ir.Hugua)  menyelenggarakan   3  kegiatan international  penting (three in one) meliputi Seminar International  Cagar Biosfir , General Asembly Local Government  Netowrk on CTI Country   (LGN –  CTI  CFF) dan  Focal Group Discussion (FGD )  Asosiasi Sail Wisata Indonesia  (ASWINDO)  yang dilaksanakan secara paralel di  Patuno Resort Wakatobi.  Acara tersut dihadiri kurang lebih 300 peserta  terdiri  dari utusan  beberapa negara seperti : Inggersi ( Kota Oknay),  Australia, Perancis,  Jepang, Korea Selatan,  China, Thailand, Vietnam, Kamboja, Filipina, Malaysia, Papua New Guinea, Salomon Island , Timor Leste dan beberapa negara lainya serta  utusan dari   kabupaten /kota Cagar Bisofir dan  utusan dari kabupaten/kota  anggota ASWINDO di Seluruh Indonesia.   Pada acara tersebut dihadiri antara lain oleh  Profesor  Dr.  Han Qunli  Direktur Natural Science UNESCO Paris sebagai Pembicara kunci (keynot speaker) , Direktur UNESCO Asia – Pacific Office   Prof. Shahbaz Khan , Dirjen PHKA Kementrian Kehutanan dan  Lingkunagn Hidup RI , Deputy LIPI Ibu  Prof. Dr.  Enny Sudarmonowati, Dr. Aji Sularso Sekjen ASWINDO dan Dr. Bernadia Irawati, Sekjen  UCLG ASPAC  masing masing jadi Pembicara  pada seminar International  tersebut.  Berikut ini Wawancara dengan Penyelenggara Ir. Hugua Bupati Wakatobi

Mengapa anda melaksanakan 3 acara tersebut secara paralel ?

Sebetulnya  ide awal acara ini kan  konferensi internasional mengenai peran Bupati/Wali kota dan gubernur dalam pengelolaan Cagar Biosfir, namun karena saya juga adalah Ketua Asosiasi Sail Wisata Indonesia (ASWINDO) yang beranggotakan 40 Bupati/Wali Kota dan 3 pemilik  Pelabuhan Marina di Indonesia ,  dan saya juga selaku Ketua Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir  dan Maritim 6 Negara CTI  (LGN –  CTI CFF) yang meliputi negara : Filipina, Malaysia, Indonesia, Papua New Guinea, Salomon Island dan Timor Leste , maka secara paralel saya laksanak 3 kegiatan  tersebut sekaligus karena pada dasarnya 3 kegiatan itu  mempunyai tujuan sama yaitu  bagaimana melaksanakan Pembangunan berkelanjutan  yang meliputi  tiga (3) aspek  utama yaitu  :  Peningkatan kegiatan ekonomi  guna kesejahteraan masyarakat, tetapi  pada saat yang bersamaan  Sumber Daya Alam Lestari dan Akar Budaya Lokal  yang arif  juga lestari. Itu sebabnya makanya kegiatan ini disebut  kegiatan three in one .

Apa substansi pembahasan dalam 3 seminar tersebut  ?

Jadi seminar di Wakatobi  ini sangat menginspirasi  Kantor Pusat UNESCO  Paris  karena ini pertama kali seminar international kerja sama dengan UNESCO  yang dilaksanakan dari bawah  ( butoom up)  oleh lembaga  setingkat bupati .  Kita ketahui bahwa UNESCO ini kan  lembaga PBB dibidang Pendidikan,   Ilmu Pengetahuan,   dan Kebuadayaan dan selama ini lebih banyak bergelut dalam bidang kebijakan internasional  dan kajian-kajian ilmiah pada 3 sektor tersebut.  Saya masih ingat betul bahwa  Pada sidang  ICC – MAB  ke 22 di Kantor Pusat UNESCO Paris pada tahun 2010 saat itu , dimana saya sebagai salah satu Anggota Delegasi Indonesia , saya beri masukan penting dalam sidang itu bahwa “ Mestinya pada saat sidang  ICC- MAB yang membahas dan menetapkan diterima atau ditolaknya satu kawasan Cagar Biosfir yang diusulkan ke  UNESCO mestinya melibatkan banyak Bupati/Walikota (Local Authority) . Alasan yang mendasar adalah  hanya pada tingkat Bupati /Walikota Cagar Biosfir tersebut dapat diimplemntasikan pada  tingkat akar rumput dilapangan . Semua peserta yang umunya ilmuan setuju dan menjadi salah satu rekomendasi penting sidang  tersebut.  Kelanjutan dari hal tersebut , maka saya di undang  sebagai salah satu pembicara pada  Konferensi Dunia Cagar Biosfir  di Kota Lima Peru  yang berlangsung pada  Maret  2016, menyajikan materi  Peraktek Cedas  “ Peran Pemerintah Daerah Dalam Implementasi Cagar Biosfir “   Bertolak dari sana maka saya dan Pak  Han Qunli dan Pak Shahbaz Khan  memantapkan rencana  Seminar Internaional Wakatobi ini.

Apa hasil  dari seminar tersebut ?

Hasil seminar itu is Amazing.  Mengahsilkan rekomendasi penting   kepada kantor Pusat  UNESCO Paris  dan semua Cagar Biosfir di dunia.. Tema Rekomendasi itu adalah “ Wakatobi Recommendation to UNESCO MAB- ICC  For strenghtening The Role of Local Government in Implementing the Lima Action Plan.  Inti Rekomendasi tersebut adalah peserta sepakat bahwa sebagai realisasi dari  Rencana Aksi (Action Plan) Lima Peru maka forum merokomondasikan kepada   UNESCO dan Pemerintah pada  669  Kawasan Cagar Biosfir yang  tersebar pada 120 negara dengan jumlah penduduk 170 juta jiwa yang mencakup luas wilayah 1,045 juta ha  untuk  secara tegas dan terintegrasi  melaksanakan beberapa kegiatan yang terangkum  dalam tiga (3)  sub tema sebagai berikut 1.  menyempurnahkan kebijakan,  aturan, konsensus dan tata kelola Cagar Biosfir pada tingkat Pemerintah Daerah, dan meningkatkan  kerja sama antar pemerintah daerah, nasioanal , regionl dan internasional  dalam pengelolaan Cagar Biosfir . 2. Pengelolaan  Sumber Daya Alam secara lestari  dan berkelanjutan dan  3.  Penciptaan Lapangan Kerja yang hijau .  Ini hanya pokok-pokok rekomendasi saja  dan  secara detail  rekomndasi lengkapnya duraikan dalam 3 halaman folio.

Terus , bagaimana dengan  LGN- CTI CFF dan ASWINDO ?

Untuk  organisasi LGN- CTI CFF mengadakan  Pertemuan  Umum  (Genereral Asembly) membahas  statuta dan system serta mekanisme organisasi sebagai salah satu organisasi yang mempunyai reputasi Internasional.

Yah Alhamdulillah …..  telah disepakati berbagai komitmen dan aturan main oragnisasi dalam Pengelolaan pesisir dan Maritim  dan Terumbu Karang pada 6 Negara CTI.  Hal ini penting mengingat  LGN CTI- CFF dalam menjalankan tugas-tugasnya mendapat dukungan dari  USAID-DOI dan beberapa lembaga donor sehinga  diperlukan tata kelolola yang profesional dan akuntable.  Mengenai ASWINDO sebagai salah satu  Organisasi Jasa Pariwisata Maritim  khusunya pada Wisata Kapal Yacht dan Cruise, juga  sepakat untuk membuat Jejaring dan jalur pelayaran serta tempat persinggahan  kapal Yacth Internasional pada Sail  Indonesia 2017 dan 2018.  ASWINDO juga   mendukung Gorontalo Utara   sebagai penyelenggara  Sail indonesia Tahun 2018 atau tau 2019.  Kami akan perjuangkan ke Menko Kemaritiman sebagai penentu kebijakan nasional .

Apa LGN- CTI  CFF  dan ASWINDO juga membuat Rekomendasi  ?

Yah . betul. Disamping kegiatan tersebut juga LGN – CTI CFF dan ASWINDO  membuat rekomendasi  yang intinya sama dengan  forum  Cagar Biosfir  yang meliputi Penguatan Otonomi  Daerah,  Peningkatan  Kegiatan Ekonomi Masyarakat dan  Konservasi Sumber Daya Alam  dan Pelestarian Kearifan Budaya Lokal.  Deklarasi Wakatobi ASWINDO dan LGN- CTI CFF juga tertuang sacara detail pada dokumen  deklarasi tiga (3) halaman folio.

Apa mamfaat lain buat peserta pada seminar tersebut ?

Saya bersyukur dengan hadirnya banyak bupati dan walikota  dari Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang antara lain Kab.Fak-Fak Papua,  Kab.  Buleleleng bali   dan  Kota Ambon Maluku. Mereka mewakili 3 pulau besar Indonesia .   Dari sejumlah  11 Cagar Biosfir yang ada di Indonesia,  hanya ada tiga  buah dari KTI yaitu  Lore Lindu Sulteng, Takabonerate Sulsel dan Wakatobi Sultra.    Kita masih sangat membutuhkan cagar biosfir baru dari KTI supaya Indonesia dapat kita pikul sacara merata dari Sabang sampai Merauke. Pada kesempatan itu ,  mereka dapat bertemu dan berbicara langsung dengan  Pak. Han Qunli dan Pak Shahbaz Khan  serta Dr. Purwanto dan  Dr. Enny sebagai prinsipal dalam pengambilan keputusan  diterima tidaknya usulan Cagar Biosfir dari daerah maupun kawasan dari pemohon.  Saya juga sadari bahwa bertemu  dengan mereka ini tanpa forum seperti ini sangat super sulit. Syukurlah forum ini  dapat digunakan oleh  mereka untuk bertemu dan berdiskusi.

Apa itu Cagar Biosfir ?

Cagar biosfir itu adalah kawasan khusus yang memperaktekan  implementasi pembangunan berkelanjutan. Kawasan khusus karena punya ciri khas sperti Wakatobi dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, juga daerah ditempat oleh Penduduk yang mempunyai adat istiadat  dan kearifan  kental dari Kerajaan dan kesulktanban Buton  . Ada 3 hal pokok  yang  harus dipenuhi  sebagai  Kawasan  Cagar Biosfir yaitu  : 1.  Kegiatan ekonomi  masyarakat  yang harus biru atau hijau . Artinya  kegiatan ekonomi mendukung kelestarian lingkungan dan Budaya lokal.  2. Kegiatan Pelestarian Sumber Daya Alam dan 3.  Pelestarian budaya dengan kearifan lokalnya.

Apa  memang susah  melamar menjadi anggota Cagar Biosfir ?

Cagar Bisofir ini  kan  sebagai pengakuan  atau cap atau  merek (trade mark) internasional  dari Lembaga PBB UNESCO tentang sebuah kawasan.  Jadi perjuangan panjang dan berliku dan membutuhkan kerja keras, kesabaran dan jaringan yang menglobal.  Pengalaman saya untuk menjadikan wakatobi  sebagai cagar biosfir itu butuh waktu selam 5 (lima) tahun . Diawali dengan surat-menyurat, penyempurnaan dokumen, diskusi, lobby,  bagian  anggota delegasi  RI di UNESCO,  kunjungan asesmen dari panitia nasional dan internasional , bangun jaringan global untuk mendapatkan dukungan referensi,  dan akhirnya penetapan pada sidang ICC – MAB. Jadi panjang dan berliku prosesnya,  tapi semua ini yang paling mendasar   diawali dari  informasi dan persahabatan dari  calon dan para prinsipal.  Itu yang terpenting karena kita mengerti lebih awal dari A sampai Z nya baru kita mulai bekerja. Jadi sangat efektif dan efisien prosesnya dan hasilnya memuaskan.

Wakatobi telah banyak membuat gebrakan nasional  dan internasional apa resepnya?

Ha  ha ha ha. Tidak punya resep.  Itu hanya sebagian dari mimpi saya . Dalam buku Lelaki Itu Hugua bertindak lokal dan berefek global karangan Ayu Arman , telah tergambar dalam mimpi saya untuk menjadi pemimpin (Bupati, Gubernur ……. ) itu kan cuman satu tujuan yaitu  bagaimana Mr. HUGUA  mengabdi kepada Tuhanya hanya untuk bermanfaat sebesar besarnya buat masyarakat lokal dan global serta bermanfaat pada alam lingkungan biotik maupu abiotik lokal dan global . Itu  saja tujuan pengabdian saya. Jadi saya berusaha untuk membangun daerah yang memenuhi syarat standar masyarakat Wakatobi.  Saya cuma berdasarkan pada keyakinan bahwa   jika proses pembangunan dan hasilnya memenuhi standar masyarakat lokal maka otomatis memenuhi standar global.  Mungkin itu saja rahasianya.  Kalau saya   membangun wakatobi meniru – niru atau impor model pembangunan daerah atau negara lain   seolah-olah kebutuhan dan standar masyarakat Wakatobi maka  pasti tidak punya karakter dan kehilangan identitas  dan pasti  tidak punya pengaruh secara nasional maupun interrnational.

Apa maksud anda  ?

Wakatobi kan punya karasteristik  keaneka ragaman hayati laut. Jadi kami bangun daerah itu sesuai dengan Karasteristik Alam dan Budaya Masyarakat Wakatobi yang  meliputi 3 aspek  yaitu  : 1.  Membangun  Manusia dan Budaya yang Islami (99% Muslim),  2. Melestarikan Sumber Daya Terumbu Karang dan  3.  Mendorong pergerakan ekonomi lokal  yang melindungi kelesatrian Sumber Daya Alam dan Kearifan Budaya  Lokal yang islami  tersebut. Hasilnya sangat baik, terbukti dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata dalam 10 tahun ini diatas 11 persen dengan anka kemiskinan dan pengangguran turun drastis dari tahun ke tahun.  Dari  kondisi tersebut baru kita pacu pembangunan infrastruktur sesuai dengan 3 prinsip tersebut  yang antara lain : pembangunan  jalan – jalan yang hampir 95% semua ruas jalan  di Wakatobi sudah mulus dan teraspal dengan baik,  Pembangunan Jembatan/dermaga Pelayaran dan Nelayan  dengan  merata keseluruh  pulau,  demikian pula  Pembangunan Fasilitas Kesehatan , Fasilitas Pendidikan serta  Fasilitas  Telekomunikasi  dan infstruktur lainya merata keseluruh pulau . Semua infrsastruktur yang kita bangu itu kan  untuk menunjang 3 aspek  karakter daerah  tadi . Jadi  karakternya pembangunanya  muncul dan menggetarkan lokal dan global.

Peran peran Internasional apa  saja yang selama ini Wakatobi dan anda  Perankan  ?

Yah sudah beberapalah ,  tidak banyak tetapi beberapa kegiatan yang bertaraf internasional di Wakatobi , dan juga saya aktif sebagai pembicara pada  organisasi tingkat  regional  dan internasional seperti UCLG ASPAC, ICLEI, City Net dan  Lembaga PBB  seperti UN- HABITAT, UNESCO, UNEP,   dll telah   menginspirasi saya membangun Wakatobi dan Juga bisa mempengaruhi kebijakan Lembaga- lembaga  regional dan lembaga dunia tersebut.  Saya ingat ada beberapa  kegiatan di Wakatobi yang berdampak global

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Undang-undang dan Perda Syariah: Ada atau Tidak Ada?

Oleh: Yusril Ihza Mahendra (Seri tulisan merespon esai Denny JA: NKRI Bersyariah atau Ruang Publik ...

Kemendagri Jelaskan Kedua Kasus KTP-el Adalah Murni Tindak Pidana.

Jakarta- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), through Mendagri Tjahjo Kumolo Beroperasi Langsung menyampaikan penjelasannya, Berlangganan penanganan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *