Home » Baubau » Wa Ode Wau Pedagang Kaya Raya Dari Buton

Wa Ode Wau Pedagang Kaya Raya Dari Buton

Generasi Muda Buton saat ini barangkali banyak yang tidak tahu jika di daerahnya pernah lahir pedagang yang  sukses dan kaya raya hingga dikagumi bahkan mungkin ditakuti oleh Belanda yang lebih dikenal dengan V.O.Vnya. Bahkan konglomerat dari Cina juga mengakui kejayaan Wa Ode Wau sebagai pedagang kaya raya dari kesultanan Buton.

Adalah Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam,SE.MSi  yang kembali mengemukakan kejayaan pedagang dari Buton pada masa lampau saat Seminar Nasional KAGAMA di Kendari Sabtu 9/11/2013 lalu. Seminar Nasional itu mengusung Tema : “Mewujdkan Kemandirian Indonesia Sebagai Negara Maritim yang adil dan Makmur”

Nur Alam yang tampil sebagai pembicara kunci mengatakan, General Massiven IV 332,1664 mengatakan bahwa :  masa itu adalah masa dimana berjajayanya seorang pedagang Buton  yang kaya raya bernama Wa Ode Wau. Dia memiliki aset perdagangan yang tersebar mencapai seluruh nusantara mulai dari, Maluku, Pulau Jawa,sampai ke Johar sehingga menjadi saningan berat VOC. Diriwayatkan antara tahun 1630 hingga tahun 1692, armada dagang Wa Ode Wau yang berkapasitas 50 – 60n mencapai 600 buah kapal layar, sebagai alat komoditas perdagangan, dengan menggunakan tenaga kerja 3000 orang, sehingga pedagan Belanda yang bernama Lighvoet menyatakan, orang Buton punya banyak sekali perahu yang dipersenjatai dengan lela (meriam ringan) dan beberapa senapan (lighvoet,1878, hal 11).

 Komoditas perdagangan Wa Ode Wau ke Maluku adalah hasil kerajinan masyarakat Buton berupa kain tenun Buton, emas, perak, berlian, pedang,parang, pisau, linggis, mata tombak yang pemasarannya melalui tukar menukar  atau barter dengan buah pala, cengkeh dan minyak kayu putih.

Komoditas perdagangan Wa Ode Wau di Barat Nusantara adalah hasil produk nelayan Buton berupa teripang, mutiara, kulit mutiara, lola, japing-japing, kura-kura, sirip ikan hiu, agar-agar dan kapas mentah. Barang impornya berupa beras, candu, barang dari besi, tembika, benang  dan tekstil, meriam meriam pertahanan (Lighvoet 18.78 hal 9. Kekayaan Wa Ode Wau mencapai 18 milyar gulden atau 60 milyar dollar.

Komoditi dari hasil pertanian, perkebunan dan peternakan berupa kopi, kapas mentah, akar bingkuru, kulit soga, balasar (komenyan),  tanduk kerbau dan kayu pala dari Maluku.Bahan-bahan tersebut dipasarkan di Makassar, Jawa, Sumatera (Aceh) sampai Singapur dan Johar (Malaka)

Kesuksesan perdagangan Wa Ode Wau ini juga diakui oleh seorang konglomerat Cina yang terbesar dagangannya di Singapura dan Johar pada saat itu. Yang bernama Sun Yin menyatakan,”Keuntungan barang dagangan Wa Ode Wau dari kesultanan Buton dalam satu musim dapat menghidupkan rakyat di ketiga negeri  yakni Singapura, Johar dan Negeri  Sultan Iskandar Muda (Aceh) selama 1 tahun.” Ia mempunyai armada besar  yang membawa barang dagangan yang tidak dapat ditampung  di pelabuhan Singapura dan Johar dalam 1 musim,” katan Sun Yin.

Lalu dimanakah harta peninggalan Wa Ode Wau ? Harta Wa Ode Wau ditanam dalm tanah  pada suatu tempat tertentu  yang dirahasiakan di Buton, yang disebut, “Kalamuia”(Lihat Residen Brugmen Kortoverclaring Muhamma Asikin- Brugman Pasal 14:8, 8 April 1906. Harta Wa Ode Wau ini dikumpulkan  selama 52 tahun melakukan aktifitas perdagangan.

Kesuksesa perdagangan Wa Ode Wau, kini  semestinya sudah cukup untuk menjadi spirit bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, khususnya masyarakat Buton untuk mengembangkan perdagangan dan budaya maritim untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. (Sudirma Duhari)

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *