Home » Headline » Tidak Diundang, Wandy Marahi Pejabat BPN di Lokasi Bandara
Ahli waris Songkeng, Wandy Syaputra mendatangi pejabat BPN Abbas dengan meluapkan emosinya atas tindakan BPN yang tidak menyuratinya.
Ahli waris Songkeng, Wandy Syaputra mendatangi pejabat BPN Abbas dengan meluapkan emosinya atas tindakan BPN yang tidak menyuratinya.

Tidak Diundang, Wandy Marahi Pejabat BPN di Lokasi Bandara

KOLAKA, MY SULTRA.COM – Ahli waris Songkeng Dg Masikki, Wandy Syaputra meluapkan kemarahan pada s‎alah seorang pejabat Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kolaka, sebab tidak diundang saat medudukan batas tanah Songkeng, Rabu (3/8/2016) di lokasi bandara Sangia Nibandera.
Wandy tak tahan menahan amarahnya dengan menunjuk-nunjuk Kasubsi pengukuran dan pemetaan BPN Kolaka Abbas, disaksikan beberapa staf BPN, Kasubag pemetaan wilayah badan pemerintahan Setda Kolaka, Satpol PP dan pejabat dinas perhubungan Kolaka yang hanya menjadi penonton.
Wandy menyesalkan karena berdasarkan hasil kesepakatan, ketika akan turun lapangan akan disurati pemilik lahan supaya bisa menyaksikan batas tanahnya. Bahkan pihak BPN telah mencatat alamat dan nomor handphone dirinya. Tapi ketika tiba pelaksanaan pengukuran dilapangan guna medudukan batas tanah Songkeng‎ Dg Masikki yang menjadi sengketa, pihaknya tidak dihubungi. Dia baru mengetahuinya setelah salah seorang pegawai perhubungan menghubunginya selasa malam.”Saya dihubungi melalui telepon tengah malam akan dilakukan pengukuran ini hari ,” kata Wandy dengan emosi.
Wandy juga mengaku dongkol ‎karena ketika sudah sama-sama di lokasi tanah sengketa, Abbas tidak menegur dirinya, pada hal sudah saling mengenal. Diperparah saat medudukan batas tanah Songkeng Dg Masikki, mereka mengambil patokan dari tanah Muharram, sehingga tanah Songkeng berada di lokasi tanah orang lain yakni Minne yang masih ada hubungan keluarga dengan Windi. Apalagi tanah Minne ini sudah dijual untuk lokasi polsek Tanggetada.
“Terus siapa yang punya tanah didepan bandara ini? Sementara tanah yang ditujukan itu adalah tanah keluarga saya Minne yang sudah dijual untuk lokasi Polsek Tanggetada. ‎Perlu diketahui ibu dan bapak saya masih hidup, disitu dulu mereka bikin rumah dan tidak mungkin mereka mengambil tanah orang untuk membikin rumah,” ketus Wandy.
Wandy menduga ada upaya yang dilakukan pihak BPN untuk mengaburkan tanah miliknya yang telah bersertifikat, dengan menunjukkan tempat lain. Apalagi berdasarkan foto satelit yang dimilikinya, lokasi tanahnya memang persis di pintu masuk bandara Sangia nibandera.
Diserang pertanyaan seperti itu, Abbas terlihat tidak bisa berkutik ‎dan hanya meminta kepada Wandy untuk bersurat kembali secara resmi, meski ucapannya itu kembali dibantah oleh Wandy. “Kami kesini hanya mendudukkan batas tanah Songkeng Dg Masikki,” kata Abbas.
Beberapa warga Tanggetada yang merupakan saksi hidup dan ikut menyaksikan pengukuran batas tanah, seperti Muharram mengaku kalau Dg Masikki merupakan orang yang pertama membuka daerah di Tanggetada yang saat ini dijadikan bandara Sangia Nibandera.
‎Begitupun warga Tanggetada lainnya, Ibe Duke mengakui kalau dulunya dipintu masuk bandara Sangia Nibandera pernah ada rumah yang ditinggali Hj Sanabong yang merupakan ibu dari Wandy, sekaligus berkebun sebelum mereka pindah ke Pomalaa.
“Disitu ibunya Windy perna bikin rumah. Bahkan tanah yang disamping itu masih tanah keluarganya. Kami ini masih hidup jadi tahu sejarahnya,” kata Ibe Duke sambil menunjuk pintu masuk bandara Sangia Nibandera. (A Arsyad)


Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

yusril

Undang-undang dan Perda Syariah: Ada atau Tidak Ada?

Oleh: Yusril Ihza Mahendra (Seri tulisan merespon esai Denny JA: NKRI Bersyariah atau Ruang Publik ...

Kemendagri Jelaskan Kedua Kasus KTP-el Adalah Murni Tindak Pidana.

Jakarta- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), through Mendagri Tjahjo Kumolo Beroperasi Langsung menyampaikan penjelasannya, Berlangganan penanganan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *