Home » Baubau » Sertifikat Wartawan Kompoten Itu, Anggap Saja Semacam SIM Tembak
Perta UKW (Uji Kompotensi Wartawan) Anggota PWI di Baubau, Sulawesi Tenggara berpose bersama penguji dari PWI Pusat, Sabtu malam 15 Oktober 2017
Perta UKW (Uji Kompotensi Wartawan) Anggota PWI di Baubau, Sulawesi Tenggara berpose bersama penguji dari PWI Pusat, Sabtu malam 15 Oktober 2017

Sertifikat Wartawan Kompoten Itu, Anggap Saja Semacam SIM Tembak

Direktur UKW (Uji Kompotensi Wartawan)  PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat, DR Usman Yatim, ketika menutup acara UKW di Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra)  Sabtu (14/10/2017) mengatakan, sertifikat wartawan kompoten yang diberikan kepada wartawan setelah lolos UKW itu,  anggap saja semacam “SIM ( Surat Izin Mengendara) Tembak” ,  yang diperoleh,  tapi sebenarnya belum terlalu mahir mengemudikan kenderaan. Namun setelah memiliki SIM, orang sudah makin berani menyetir, tapi tetap hati hati hingga ahirnya makin mahir.

Usman Yatim bersama Oktaf Riadi, dan Nurhayana selaku penguji UKW dari PWI pusat, baru saja menguji 20 orang Wartawan Muda, anggota PWI di Baubau. Semuanya dinyatakan telah kompoten sebagai wartawan kategori  Wartawan Muda, meski diantaranya masih disertai catatan yang perlu diperbaiki.

UKW di Baubau merupakan angkatan yang ke V. Sebelumnya telah di lakukan UKW di Kota Kendari dan Kolaka. Ada wartawan  kategori Wartawan Madya dan Wartawan Utama.Selanjutnya setelah dua tahun,  bagi Wartawan Muda dan Wartawan Madya, bisa naik kelas menjadi  Wartawan Madya atau Wartawan Utama sesuai jenjangnya. Wartawan Utama merupakan syarat bagi mereka yang telah menduduki jabatan Pemikpin Redaksi atau Pemimpin Organisasi seperti misalnya Ketua PWI.

Masyarakat Pers Indonesia meyadari betapa pentingnya sertifikasi wartawan dan lembaga pers melalui apa yang dikenal dengan Kesepakatan Palembang 9 Februari tahun 2010 menyatakan bahwa perusahaan pers wajib mempekerjakan wartawan bersertifikat beruapa Suarat Kompotensi Wartawan (SKW) dilanjutkan dengan Deklarasi Pelembang  9 Februari 2012, bertepatan dengan Hari Pers Nasional (HPN) guna memberlakukan Delarasi Palembang.

Sejak saat itu, PWI Pusat, termasuk PWI  Sulawesi Tenggara, rajin melakukan UKW guna mengukur pengetahuan, keterampilan, keahlian termasuk sikap (penerapan kode etik)  bagi seluruh wartawan. Setiap kali UKW ada yang dinyatakan sudah kompoten dan ada yang dinyatakan belum kompoten. Mereka yang lolos UKW selain mendapat sertifikat dari Dwan Pers juga mendapatkan kartu wartawan dari Dwan Pers sesuai dengan jenjangnya. Ada Wartawn Muda, Wartawan Mdaya dan Wartawan Utama.

Usman mewanti wanti kepada para wartawan pemegang kartu wartawan kompoten yang ditandatangani Dewan Pers agar senantiasa belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan menulis guna meningkatkan profesionalismenya. Dalam menjalankan tugasnya sebagai wartawan harus senantiasa berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik dan Undang Undang No.40 Tahun 1999 tentang Pers.

Sebab, kata Usman ,hanya wartawan profesional yang dapan menjalankan fungsi dan perannya dalam  memberikan informasi, menghibur, dan melakukan kontrol sosial dengan penuh tanggungjawab guna melayani kepentingan rakyat atau publik sekaligus mampu menjaga kehormatan dan martabat profesi wartawan. Jika dikemudian hari wartawan Kompoten ditmuakan atau terbukti melakuan penyimpangan misalnya melanggar kode etik, maka kartunya dapat dicabut. (Sudirman Duhari)


Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Ketgam:
WR II USN Kolaka, Syahrir Sahaka

18 Pendaftar CPNS Tes SKB di USN Kolaka

KOLAKA, MYSULTRA.COM– Sedikitnya 18 orang pendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka, ...

Ilustrasi

Dinasti Korupsi Yang Dibentuk Di Atas Meja Makan keluarga

(Belajar Dari Dinasti Korupsi E-KTP, Dinasti Korupsi RS Sumber Waras dan Garuda Indonesia) Tradisi korupsi ...