Home » INFO RAMDHAN » Puasa Mengendalikan Nafs
puasa kendari

Puasa Mengendalikan Nafs

Oleh: Makmur Ibnu Hadjar

Dilingkungan para alim ulama dan para sufi menggunakan istilah nafs, untuk menunjuk atau mengacu pada sifat-sifat  dan kecendrungan  manusia pada aspek yang buruk, seperti tamak, serakah, egois, dengki dan semacamnya. Nafs itu sendiri, yang ada pada manusia, sifatnya  sangat dinamis. Jika nafs itu bergerak  kearah  tingkatan yang rendah, tampa muncul suatu kesadaran trasedental untuk melawannya,  maka dapat menggiring manusia kearah kesesatan. Esensinya kita semua senantiasa berada dalam proses  perjuangan   untuk menetralisir atau mengalahkan dorongan nafs itu kearah yang menyesatkan.

Mengendalikan nafs, adalah suatu perjuangan. Proses perjuangan itu dihadirkan, karena disamping nafs itu sendiri yang sifatnya dinamis,  juga karena proses yang ada dalam pikiran setiap anak manusia – dalam suatu masalah cendrung berdimensi jamak. Dalam konteks yang relevan  dengan dinamika nafs. Syech Ragip al-Jerrahi, menulis sebagai berikut : “Nafs sebagai proses yang dihasilkan oleh interaksi antara ruh dan jasad, bukanlah struktur psikologis yang bersifat statis”. Lanjut Syech Ragip al-Jerrahi, “sama sekali tidak ada yang salah dengan ruh maupun jasad. Namun proses yang dihasilkan keduanya boleh saja menyimpang”.

Dalam kajian para ahli tasauf bahwa proses penyimpangan tersebut terjadi, karena ketika ruh yang suci terpenjara oleh dunia materi yaitu tubuh, maka ruh yang immateri mengalami  distorsi dari keasliannya-yakni terdistorsi oleh materi, kemudian dari proses ini terbentuklah nafs. Karena nafs  berakar dari immateri dan materi, maka nafs itu sendiri memiliki karakter dan kecendrungan kepada material dan spiritual.  Pada awalnya, atau katakanlah karakter primordialnya, sesunggugnya nafs itu, didominasi oleh kecendrungan materi, dan kepada semua  kesenangan sesaat. Tetapi ketika nafs itu dilatih dan dikendalikan, maka sesungguhnya nafs itu dapat melakukan tranformasi untuk lebih tertarik kepada dimensi spiritual, dan dimensi ketuhanan. Transformasi itu sangat mungkin terjadi, jika dominasi   ruh suci   yang menarik nafs masuk  kewilayahnya. Ibn Atha’Illah, dengan sangat gambling menjelaskan bahwa nafs ini bergerak pada medium yang paling  rendah kepada medium yang paling  mulia (suci). Nafs yang paling rendah yaitu nafs  ammarah, selanjutnya nafs  lawwamah adalah nafs yang memberikan cahaya tertentu kepada kalbu, yang menyadarkan dari kelalaian, dan  nafs muthma’innah (tentram), nafs yang mendapat cahaya kalbu secara sempurna.

 Esensi fungsi shiyam (puasa) ramadhan yang kita sedang laksanakan sekarang ini, sejatinya adalah melatih dan mengendalikan nafs, agar dapat masuk pada wilayah ruh yang suci, yaitu wilayah Ilahi Rabbi. Proses latihan ini bertolak dari sifat generik  manusia. Seluruh manusia  berkedudukan antara ruang malaikat  dan ruang  hewan. Kita semua memiliki  potensi  bergerak  pada kecendrungan kedua ruang  tersebut,  malaikat  atau  hewan. Untuk itu kita perlu berjuang, agar dapat mengalahkan kecendrungan hewani, menuju kecendrungan  malaikat. Menurut  Syech Ragip al-Jerrahi; “inilah yang disebut dengan jihad batiniah atau perjuangan batiniah”.  Itulah sebabanya ibadah shiyam (puasa) seseorang sangatlah privasi, hanya ALLAH dan hamba pelaku puasa yang mengetahui, karena kondisi yang dituju pelaksanaan ibadah  shiyam (puasa) adalah transformasi nafs menuju dominasi ruh, yaitu kecendrungan kepada Ilahi Rabbi. Proses itu berlangsung di dalam rongga dada dan rongga kepala  setiap manusia – proses trasedental, dan selanjutnya mengalir pada proses faktual yakni laku sosial manusia, yang melaksanakan ibadah shiyam (puasa).

Disinilah salah satu ruang yang menjadi tujuan dan pemaknaan kata shiyam (puasa), yakni menahan diri dalam laku phisik dan materi serta menahan diri dalam laku nafsani atau kejiwaan, sebagaimana Rasulullah SAW mengingatkan kita sekalian yang sedang melaksanakan ibadah shiyam (puasa), dalam salah satu sabda beliu yang sangat populer;  “Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor dan (tidak bisa meninggalkan) perbuatan kotor, maka ALLAH tidak punya kepentingan apa-apa, meskipun mereka meninggalkan makan dan minum” (HR Buhari). Wallahuallam bissawab*.


Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

yusril

Undang-undang dan Perda Syariah: Ada atau Tidak Ada?

Oleh: Yusril Ihza Mahendra (Seri tulisan merespon esai Denny JA: NKRI Bersyariah atau Ruang Publik ...

Kemendagri Jelaskan Kedua Kasus KTP-el Adalah Murni Tindak Pidana.

Jakarta- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), through Mendagri Tjahjo Kumolo Beroperasi Langsung menyampaikan penjelasannya, Berlangganan penanganan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *