Home » INFO RAMDHAN » PERJANJIAN DENGAN ALLAH

PERJANJIAN DENGAN ALLAH

                                                                        Oleh: Makmur Ibnu Hadjar

           Kehadiran  kita  dalam kehidupan dimuka bumi ini, sesungguhnya terikat oleh suatu perjanjian dengan ALLAH Subhana Wata’ala. Oleh karena itu, sejatinya bahwa agama itu adalah perjanjian, yang dalam bahasa Arab disebut mitsaq atau ahdun,   suatu perjanjian suci antara sang Khaliq dengan hambanya. Nurcholish Madjid menyebutnya sebagai perjanjian primordial atau perjanjian azali.

          Salah satu ayat dalam Alqur’an suci, menggambarkan perjanjian tersebut, yang terjemahannya sebagai berikut : “ Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya kami bersaksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya kami (anak cucu Adam) adalah orang-orang lengah terhadap keesaan Tuhan(Q7:172).

          Perjanjian primordial tersebut, sekaligus sebagai misi utama  atas keseluruhan proses kehidupan kita, jadi semacam misi generik, meskipun pada prinsipnya ada beberapa misi suci lain, sebagai turunan  dari misi generik tersebut, salah satunya adalah dalam kapasitas kita sebagai khalifah (wakil) Tuhan, maka misi kita adalah menciptakan kesejateraan sosial, dalam batas keadaban Islami. Kembali kepada perjanjian primordial kita dengan Tuhan, yang pernah kita ikrarkan di depan Tuhan, di suatu alam ruhani. Nurcholish Madjid mengistilahkan  “sebagai perjanjian yang tak terhingga di masa lalu, from all eternity”. Selanjutnya kita membawa perjanjian primordial tersebut dalam kehidupan dimuka bumi, untuk kita tunaikan atau kita manifestasikan. Selanjutnya kita akan kembali kepada Tuhan, untuk mempertanggungjawabkan perjanjian primordial tersebut. Jalan atau cara untuk kembali kepada Tuhan, satu-satunya cara adalah jika  kita konsisten menunaikan perjanjian primordial tersebut.

          Ada dua aspek yang utama dari penunaian perjanjian tersebut, yaitu Pertama; konsisten secara ruhani dan laku, bahwa  tidak ada bentuk ketundukan dan kepatuhan kepada apapun dan siapapun, selain kepada  ALLAH Subhana Wata’la (tauhid). Dalam konteks tauhid ini Ibn Atha’Illa, menjelaskan dengan sangat bagus yaitu ; “manusia diciptakan sebagai itentitas yang mulia. Jika pada mulanya manusia itu mahluk yang mulia, maka ketika itu dia mensucikan dirinya, berarti dia sesuai dengan kejadian asalnya, tapi kalau dia kotor (najis) berarti telah menyalahi asalnya. Manusia menjadi najis ketika dia mempersekutukan ALLAH, sebagaimana firman ALLAH : “ hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang yang musyrik itu adalah najis (Q.S. al-Tawbah 9:28).  Kedua; manifestasi yang pertama itu, adalah ritual ibadah penyembahan kepada ALLAH Subhana Wata’la, seperti yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW. Seluruh  hidup kita merupakan realisasi  atau pelaksanaan untuk  memenuhi  perjanjian  dengan  ALLAH, yang intinya  adalah  ibadah.

           Kita tidak mungkin bisa   menemukan jalan untuk kembali kepada Tuhan manakala kita mengingkari perjanjian primordial tersebut. Itulah sebabnya, orang yang mengingkari atau tidak menunaikan perjanjian dengan Tuhan, disebut “orang sesat”, artinya orang yang tidak bisa menemukan jalan untuk kembali kepada Tuhannya, Orang-orang yang sesat dalam terminologi   keagamaan disebut  dhallun, yakni orang-orang yang tidak menemukan jalan (sesat), untuk kembali ke asal, yaitu Allah Subhana Wata’ala.

            Mereka yang tidak menemukan jalan (dhallun) untuk kembali kepada Allah, karena mereka tidak pernah membangun hubungan yang intensif  dengan  Allah melalui ibadah,  yaitu  dengan sholat, dan zikir. Dengan sholat dan zikir, yakni suatu kesadaran  trasedental    tentang hadirnya Allah disemua aspek kehidupan kita, dan selanjutnya  lahirnya  kesadaran  spiritual bahwa kepadanya kita akan kembali.

            Bagi orang-orang  yang tidak bisa menemukan jalan kembali kepada Tuhannya (tersesat), maka pasti akan menemukan kesengsaraan yang luar biasa, dan kesengsaraan yang tidak terhingga batas waktunya, karena proses kembali berjumpa dengan Tuhan, adalah proses kehidupan yang abadi. Sebaliknya bagi hamba, yang dibimbing dengan kasih sayang Ilahi Rabbi, yakni dengan menemukan jalan kembali kepada Tuhannya, maka sang hamba akan menemukan kebahagian dan kenikmatan yang luar biasa, karena berjumpa dengan Ilahi Rabbi, adalah puncak kenikmatan yang bisa diraih seorang hamba.  Wallahuallam bissawab*.

 

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *