Home » Berita Terpopuler » Muhammad Arfah Inginkan Meninggal di Mekkah

Muhammad Arfah Inginkan Meninggal di Mekkah

H. Muh Tahir Arfah memperlihatkan foto orang tuanya Almarhum H. Muhammad Arfah yang ada didalam kopernya.

MySultra – Makassar

Jemaah haji asal kabupaten Kolaka yang tergabung dalam kloter 22 bernama H.Muhammad Arfah Mapuji bin H. Dg Mario (77) asal Desa Wowa Tamboli, Kecamatan Samaturu memang menginginkan meninggal di Mekkah atau tanah suci.

“Memang ada sinyal yang diberikan oleh orang tua saya, dia berkata bagusnya mati disini (tanah suci red.), banyak yang shalatkan. Dia juga berkata sebaiknya saya terakhir disini (tanah suci)”kata Drs. H. Muh Tahir Arfah,MPdI (53) putra Almarhum H. Muhammad Arfah yang menemani bapaknya ke tanah suci ditemui di asrama haji Sudiang, senin (3/11/2014).

Menurut Muh. Tahir, memang bapaknya memiliki riwayat penyakit asma. Namun ketika akan menjalankan ibadah haji penyakit asmanya tidak muncul dan kondisinya sangat prima, bahkan saat melakukan tawaf pertama tidak ada tanda-tanda orang tuanya sakit, sehingga mereka tidak kwatir dengan penyakit lama orang tuanya.

Tahir mengkisahkan detik-detik meninggalnya orang tuanya yang terjadi di Mina usai menjalankan wukuf di arafah yang kejadiannya hanya berlangsung kurang lebih 13 menit. Saat itu pada hari senin 6 oktober 2014 masih suasana tasrib, usai berwudhu untuk menjalankan shalat dhuhur, Almarhum tidak langsung shalat tapi langsung duduk dengan alasan agak sesak.

Karena terlihat sesak, H. Tahir kemudian memintanya untuk meminum obat sekaligus menghubungi dokter kloter. Ketika diperiksa dan ditensi darahnya, dokter memberikan kesimpulan kalau Almarhum kondisinya masih normal sehingga dia tidak panik.

“Setelah itu saya suruh pindah tidur ditempat aman sambil di kipas-kipas istri saya karena saya menjalankan shalat dhuhur. Saya tidak tau sangat menjaganya apakah disitu sudah meninggal atau tertidur, kemudian saya minta tolong teman untuk menjaganya tuk mengambil obat pada dokter. Setelah tiba dari mengambil obat, ternyata saat memberikan kesimpulan dia tidur ternyata sudah wafat.”Ungkapnya.

H.Muhammad Arfah Mapuji meninggal dunia pada hari senin tanggal 6 oktober 2014 dalam suasana tasrib setelah dhuhur sekitar pukul 13.00 waktu Mina. Kepergiannya tanpa ada tanda-tanda yang diberikan tapi berjalan dengan begitu cepat, bahkan Alhamrhum meninggal dengan wajah yang jernih dan tidak terlihat tanda-tanda kesakitan.

Tahir juga bersyukur ketika orang tuanya meninggal dunia, saat itu diniatkan dan berdoa supaya di shalatkan di masjidil haram dengan harapan banyak yang menshalatkan orang tuanya. Ternyata doanya terkabulkan orang tuanya di shalatkan di masjidil haram, biasanya ketika ada yang meninggal di Mina maka akan di kuburkan disitu juga. Satu hal yang membuat Tahir dan istrinya mengikhlaskan orang tuanya, ketika diberitahukan salah seorang syaik bahwa dia melihat roh orang tuanya naik ke langit berbentuk cahaya putih.

Almarhum H. Muhammad Arfah yang dimandikan di hariyah, kemudian di makamkan di Syarayi. Almarhum yang berprofesi sebagai petani dan pernah menjabat kepala Desa Tamboli, meski tidak kembali ke tanah air dan hanya kopernya yang kembali, namun menjadi panutan bagi anak dan cucunya. Almarhum meninggal setelah berstatus haji. (A Arsyad)

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *