Home » Berita Terpopuler » MTQ Squere, Hasil Pikiran Besar di Kota Kecil
Bangunan Utama MTQ Squere di Kota Kendari

MTQ Squere, Hasil Pikiran Besar di Kota Kecil

Kalimat Pikiran Besar Di Kota Kecil pada judul tulisan di atas, penulis kutip dari sebuah tulisan Dahlan Iskan   yang di muat JPNN (Jawa Pos National Network) selama dua hari berturut-turut 25 dan 26 Juni 2009 silam setelah dia berkunjung  dan menyaksikan perkembangan Kota Kendari, Ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Salah satu yang diliat dan dicatat oleh Dahlan Iskan sebagai tanda tanda kemajuan kota Kendari adalah adalah pembangunan lokasi MTQ Squere, plus Tugu Persatuan  – di pusat Kota Kendari. Soalnya di kebanyakan kota, sangat sulit untuk memiliki squara yang luas, indah dan multi fungsi. Hal lain yang dikagumi oleh CEO Grup Jawa Pos dan sempat di percaya Presiden SBY untuk menjadi Dirut PLN dan Menteri BUMN ini adalah  terbukanya banyak jalan di Kendari dan Pembangunan Kantor dan kawasan 100 hektar Kantor Gubernur yang sekaligus perluasan kota Kendari.

MTQ squere  dibangun pada era pemerintahan Gubernur Ali Mazi. Saat itu, Kota Kendari mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah pelaksanaan  Musbaqal Tilawatil Qur`an (MTQ)  Nasional  XXI yang dibuka   10 juli 2006. Iven Nasional yang dilaksanakan setiap tiga tahun secara bergilir di setiap propinsi itu, dimamfaatkan membangun MTQ squere seluas  sekitar 5 hektar.

Lokasi pilihan yang dinilai tepat untuk dibenahi sekaligus dibangun adalah kawasan pemukiman kumuh dalam rawa-rawa yang berada di depan kantor Walikota Kendari. Tak mudah memang untuk membangun kawasan ini. Selain medannya berat karena harus menimbun rawa, juga harus mengganti rugi bangunan dan tanah,  baik yang dimiki secara syah maupun yang menduduki secra illegal.

Belum lagi ada sekolompok orang yang protes atas pembangunan tersebut, hususnya pembangunan Tugu Persatuan yang dinilai bukan perioritas pembangunan Sulawesi tenggara. Aksi protes tersebut , bahkan mendapat dukungan dari politisi yang tidak simpati dengan kepemimpinan Ali Mazi. Saat di bangun tugu,  di lokasi MTQ Squere bahkan sempat tertancap bendera salah satu partai, tanda protes atas pembanguan tersebut. .

Negosiasi pemerintahan Ali Mazi dengan sebagian besar warga berhasil. Mereka bersedia menerima ganti rugi tanah dan bangunan. Tapi seorang diantaranya lebih memilih jalur pengadilan. Pembangunan MTQ Squere berlanjut.

Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono atau lebih popular disebut SBY bersama ibu Ani Yudoyono hadir untuk membuka acara MTQ di Kota Kendari. Jika MTQ digilir pada 33 provinsi di Indonesia , maka momen tersebut  hanya bisa berulang  setelah 99  tahun kemudian . Itulah sebabnya  pemprov Sultra waktu itu bertekag untuk menyambut dan mengabadikan peristiwa tersebut dengan  pembanguanan  MTQ squere, plus Tugu Persatuan  yang menumental sekaligus menjadi icon bagi kota Kendari.

Acara pembukaan MTQ waktu itu berlangsung sangat meriah. Tak kurang dari 1000 orang penari kolosal tampil memukau hadirin. Kegemerlapan lampu warna- warni yang diiringi dengan suara musik bernuansa islami membuat acara tersebut berlansung dalam suasana hikmat dan sahdu.  Ketika membuka acara tersebut, Presiden SBY menyatakan kekagumannya atas pembangunan lokasi tersebut termasuk acaranya yang sangat meriah. Bersama ibu Ani Yudhoyono, SBY menyempatkan menanam pohon kuku di lokasi tersebut.

Saat acara dibuka, pembangunan MTQ Squere termasuk Tugu Persatuan belum rampung seratus persen. Tugunya memang sudah berdiri kokoh dan anggun.,namun  beberapa bagian seperti lantai termasuk lift untuk mencapai puncak tugu belum selesai. Yang sudah rampung adalah dua bangunan utama, beberapa kolam lengkap dengan air mancurnya serta lapangan yang cukup luas.

Selain masalah waktu – Gubernur Ali Mazi (2003 -2008) –  , kerbatasan dana menjadi kendala untuk bisa merampungkan pembangunan tersebut . Tentu saja  Ali Mazi berharap apa yang telah dia rintis dan bangun,  dapat diteruskan oleh gubernur Sulawes Tenggara selanjutnya.

Menurut Ali Mazi, pembangunan lokasi yang akan menjadi pusat kota sekaligus menjadi icon Kota Kendari itu akan sangat bermamfaat sebagai ruang public, semacam alun- alun kota , tempat rekreasi, olah raga, kegiatan seni budaya  serta berbagai kegiatan lainnya baik skala daerah, regional dan  internasional. Gedungnya yang terbuka bisa digunakan untuk miting, seminar, lokakarya  dan sebagainya. Bahkan disekitar MTQ square dapat menjadi tempat bagi pedagang kaki lima.

Dengan kata lain, menurut Ali Mazi, lokasi dan bangunan di kawasan tersebut sangat bermamfaat bagi masyarakat, secara ekonomi, social, politik,budaya dan lingkungan. Bagi pemerintah, bisa menjadikan kawasan terbut sebagai sumber pendapatan daerah.

Benar apa yang diungkapkan Ali Mazi. Kawasan MTQ Squere,  kini,  telah banyak dimamfaatkan usai pelaksanaan MTQ. Lokasi tersebut sudah banyak digunakan oleh masyarakat, untuk olah raga, lari jogging atau sekedar foto selfi, pedagang kaki lima, pertemuan raja raja Nusantara, lokasi kampane politisi, berbagai macam pameran baik tingkat provinsi maupun nasional, tempat bagi para politisi melakukan kampaye, pageran musik dan seni, pesta rakyat, termasuk Kiai M.H Ainum Najib mantu, karena menantunya orang Kendari. Bahkan menjadi pendidikan dan latihan bagi  pengemudi  motor dan yang dikelola Polda Sultra.

Di era pemerintahan Nur Alam (2008-2013, 2013-2018) pembanguanan MTQ Squere tak dirampungkan. Meski demikian hampir tiap tahunnya dikuncurkan milyaran dana APBD untuk “membanahi”  lokasi tersebut,  termasuk membongkar, menghancurkan   serta  menimbun sebagian kolamnya untuk dijadikan lapangan.

Sebelumnya, keberadaan kolam tersebut selain menjadi tempat air mancur (saat acara pembukaan MTQ dikolam juga ada miniature kapal) juga merupakan symbol bahwa provinsi Sulawesi Tenggara sebagai provinsi Kepulauan.

Mungkin tak mau repot mengurus kawasan tersebut, pemprov Sultra Sejak tahun 2015, menyerahkan pengelolaan kawasan MTQ Squere   kepada pemerintah kota Kendari , dengan harapan kawasan tersebut lebih ter urus sebab seringkali usai acara ditempat tersebut, sampah sampah berserahkan dimana-mana. Khusus Tugunya mulai ada yang rusak dan dicoret-cotret oleh tangan jahil, ada kacanya yang sudah pecah bahkan dipuncak tugunya sudah tak ada lagi.

Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau,  MTQ Squere sudah banyak mamfaatnya bagi masyarakat setempat dan daerah , dikagumi oleh orang luar, menjadi salah satu icon bagi Kota Kendari, tinggal bagaimana dengan pemerintahnya ?

Penulis : Sudirman Duhari

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *