Home » Berita Terpopuler » Mengenal Tari Lumense Dari Kabaena

Mengenal Tari Lumense Dari Kabaena

Ketika saya diundang oleh Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) Kendari awal oktober Tahun 2014 lalu untuk menjadi nara sumber mengenai “Tari Lumense” pada pada acara Gelar Budaya Multi Etnis, saya mencoba membuka buka internet meminta bantuan mbah google untuk memperkaya dan memperdalam referensi atau pengetahuan saya mengenai tarian Lumense- tarian khas suku Moronene Kabaena  – sebuah produk budaya leluhur saya yang lahir dan besar di Kabaena.  Suku Moronene di Kabaena juga dikenal dengan nama Tokotua. Suku Moronene merupakan salah satu suku  asli yang mendiami wilayah Sulawesi Tenggara. Nenek moyang dari suku ini adalah bangsa Melayu Tua yang datang dari Hindia Belakang pada zaman pra sejarah.

Kabaena kini secara administratif berada pada daerah otonom Kabupaten Bombana. Dulunya Kabaena masih tergabung dengan Kabupaten Buton, bahkan dizaman kerajaan, Kabaena berada pada lingkaran Kesultanan Buton. Kini, masyarakat Kabaena bersama para tokohnya tengah berjuang untuk menjadi daerah otonom yakni menjadi Kabupaten kabaena Kepulauan. Usulannya sudah masuk di DPR-RI

Tak seperti biasanya, kali ini saya diundang bukan untuk berbicara mengenai kebebasan pers atau dunia jurnalis dan dunia kewartawanan. Bukan pula saya diundang sebagai Ketua PWI Sultra atau Saksi Ahli Dari Dewan Pers, namun saya diundang sebagai Pengamat Budaya. Mungkin karena saya memang tercatat sebagai redaktur  pada penerbitan yang salah satunya membidangi masalah budaya, bahkan pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan wartawan khusus mengkaji dan mendalami masalah budaya.

Saya benar-benar terkejut dan heran setelah saya mendapat imformasi dari “Mbah Google” mengenai adanya beberapa tulisan soal  tarian lumense. Ada tulisan yang dilansir oleh Wikipedia bahasa Indoesia, ensiklopedia bebas  (Diberitakan Maret 2013) – yang menyebutkan bahwa  Lumense itu berasal dari dua kata yakni  kata Lume yang berarti terbang dan mense yang berarti tinggi. Jadi katanya Lumense dapat diartikan Terbang Tinggi.

Pengertian inilah yang mengejutkan saya karena berbeda dengan referensi saya selama ini. Mungkin penulisnya menyamakan atau mencampur adukan dengan kata “lumaa” yang dalam bahasa moronene kabaena memang artinya terbang.

Sebenarnya,  lumee artinya membuang air atau menguras air sumur atau air pada wadah lain yang airnya kotor, tercemar hingga berbahaya bagi kesehatan.  Sedang eense adalah gerakan kaki yang bukan seperti jalan biasanya tetapi gerakan kaki seperti yang biasa dilakukan oleh penari.

Jadi yang benar, Lumense adalah  Tarian khas Moronene Kabaena yang dimaksudkan untuk mencegah, menghidari bahaya bahkan mengobati  semacam penyakit, bencana dan bala.

Sedang Menurut Abdul Madjid Ege, Ketua Lembaga Adat Kabaena secara etimologis, Lumense berasal dari kata Lumee dan eense (huruf e diucapkan seperti bunyi kata ember) Lumee berarti mengeringkan atau membuang genagan air. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kabaena dijaman dulu maupun sekarang sering membersihkan sumur dengan cara lumee agar sumber air itu terhindar dari pencemaran kotoran dan penyakit sedang eense dapat diartikan berjingkrak-jingkrak . Jadi Pengertian lumense menurut Madjid, adalah suatu gerakan ritual tertentu yang bertujuan membersihkan diri dari dosa, bala , bencana ataupun penyakit.

Dimasa lampau, Tarian lumense memang merupakan bagian dari ritual Meoli yakni ritual pada zaman dimana masyarakat Moronene Kabaena masih menganut faham animisme. Meoli merupakan ritual yang menyajikan berbagai sesajen atau rupa-rupa makanan untuk dipersembahkan kepada mahluk halus penguasa atau pemilik negeri yang mereka sebut  Kowonuano. Mereka percaya mahluk halus penguasa di pulau Kabaena itu berada di gunung Sangia Wita.  Pada masa tersebut, masyarakat moronene Kabaena menyakini bahwa Kowonuano itu memliki kemampuan dan kekuatan untuk mengobati penyakit , mencegah bencana dan menolak bala.

Konon Tarian ini  pertama kali dipersebahkan pada sebuah bukit tidak jauh dari desa Tangkeno yang kini dikenal dengan nama Tangkeno Mpeolia yang artinga Gunung Tempatnya Meoli. Bahkan Konon menurut Abdul Madjid penemu tarian lumense adalah seorang pertapa bernama Waliampehalu penduduk desa Tangkeno

Desa Tangkeno terletak di lereng Gunung Sangia Wita pada ketinggian 650 meter dari permukaan laut (dpl). Puncak Sangia Wita (1.850 M) merupakan atap Sulawesi tenggara di wilayah kepulauan.

Di tempat pertapaan, Woliampehalu sering mendengarkan gendang dan suara hiruk-pikuk manusia dari arah gunung Sangia Wita. Pada suatu saat ia berusaha menemukan pusat “keramaian” tersebut, namun tak berhasil . Ia lalu kembali bertapa selama 8 (delapan) hari kemudian sekoyong-konyong di tempat itu muncul gendang serta beberapa orang pemuda ganteng yang diiringi para penari yang memperagakan gerakan-gerakan menuruti irama gendang yang di tabuh para pemuda tadi. Mereka mengelilingi sebatang pohon pisang.

Hampir bersamaan dengan itu antara mimpi dan tidak, Woliampehalu mendengar suara sayup-sayup yang menjelaskan manfaat gerakan berirama tadi bagi manusia. Dijelaskan pula bahwa penari maupun alat gendang berasal dari wawo sangia (kayangan ).

Seusai pertunjukan, mereka lenyap, kembali ke kayangan . Setelah kembali dari bertapa ia berusaha melengkapi peralatan sesuai apa yang dilihatnya. Ketika itu di negeri Tangkeno dan Kabaena umumnya sering terjadi bermacam- macam bencana, wabah penyakit, dan lain-lain.

Maka sesuai apa yang disaksikannya dari pertapaan, Woliampehalu mencoba mempraktekkan cara pengobatan dengan gerakan-gerakan yang diiringi irama tabuhan gendang.

Penuh Simbol

Tarian ini dilakukan oleh 12 orang, 6 orang berperan sebagai laki-laki dan 6 lainnya berperan sebagai permepuan. Para penari menggunakan busana adat Tokotu’a atau Kabaena. Untuk para penari yang berperan sebagai perempuan memakai rok berwarna merah maron dan atasan baju hitam. Baju ini disebut dengan taincombo dengan bagian bawah baju mirip ikan duyung. Untuk penari yang berperan sebagai laki-laki memakai taincombo yang dipadukan dengan selendang merah. Kelompok laki-laki memakai korobi (sarung parang dari kayu) yang disandang di pinggang sebelah kiri.

Tarian ini diawali dengan gerakan maju mundur, bertukar tempat kemudian membentuk konfigurasi huruf Z lalu berubah menjadi S, gerakan yang ditampilkan merupakan gerakan yang dinamis yang disebut momaani atau ibing. Pada saat itu tarian ini akan terasa amat menegangkan. Pasalnya, parang telah dicabut dari sarungnya dan diarahkan ke kepala penari putri sambil masih terus momaani. Dalam sekejap parang itu kemudian ditebaskan ke batang pisang. Dalam sekali ayun semua pohon pisang rebah bersamaan.

Tarian lumense ditutup dengan sebuah konfigurasi berbentuk setengah lingkaran. Pada episode ini para penari membuat gerakan tari lulo, dengan jari yang saling mengait sedemikian rupa sehingga telapak tangan masing-masing saling bertaut, lalu secara bersama digerakkan turun-naik untuk mengimbangi ayunan kaki yang mundur-maju.

Kini Tarian lumense tidak lagi ditampilkan untuk dipersebahkan kepada roh halus atau Kowonuano tetapi dipersembahkan untuk menyambut tamu agung seperti misalnya para pejabat penting atau para turis asing semacam pertanda selamat datang atau selamat jalan dengan berbagai makna simbolis agar tamu maupun masyarakat terhindar dari berbagai tantangan berbagai bencana, penyakit bahkan bala

Bagi masyarakat Kabaena, pohon pisang memiliki filosofi tak mau mati sebelum menghasilkan buah. Jadi, sekalipun pisang itu ditebang, tetap  akan  tumbuh sampai berbuah. Ketika  pisang yang sudah berbuah ditebang maka barulah pisang tersebut mati. Selain itu penebangan pohon pisang  bagi orang moronene kabaena, dipersonifikasikan sebagai bencana yang harus dicegah.

Bencana bisa dalam bentuk banjir, tanah longsor, wabah penyakit, dan kerusuhan sosial. Maka, ketika pohon pisang telah rebah, artinya bencana telah dapat dicegah, dan warga pun akan hidup dalam suasana yang aman dan tenteram.

Kekompakan dan rasa kekerabatan juga menjadi komitmen dalam kehidupan sosial masyarakat tradisional Kabaena. Hal itu disimbolkan dengan konfigurasi tarian massal lulo tadi.

Adapun pun warna pakaian hitam yang dipadukan dengan merah maron. Warna hitam disimbolkan bahwa dalam hidup ini tak selamamnya menyenangkan (suka) namun ada juga yang tidak menyenangkan (duka) yang disimbolkan dengan warna hitam namun semua itu harus berani dihadapi dengan kerja keras disertai doa yang disimbolkan dengan warna merah. (Sudirman Duhari)

 

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *