Home » Berita Terpopuler » Menara Persatuan di Kendari Penuh Makna Simbolik
Tugu Persatuan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara

Menara Persatuan di Kendari Penuh Makna Simbolik

Kalau Kota New York  di Amerika Serikat punya Patung liberty, Kota Kuala Lumpur di Malaesia punya Patung Kembar, Kota Jakarta  di Indonesia punya Tugu Monumen Nasional  atau Monas , maka Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) punya “Tugu Persatuan”.

Tugu ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Sultra, Ali Mazi, SH peride (2002-2008), Pembangunan tugu  tak terpisahkan dari pembangunan lokasi pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur`an (MTQ)Tingkat Nasional XXI di Kendari 10 Juli 2006. Kawasan kurang lebih 5 hektar yang semula merupakan kawasan pemukiman kumuh dan rawa-rawa, seolah disulap menjadi Pusat Kota Kendari. Lokasi ini kemudian dikenal dengan kawasan  ex MTQ atau ada yang menyebut lebih keren “MTQ Square” , dan berfungsi semacam Alun-Alun Kota Kendari.  Lokasinya,  berada tepat di depan kantor Walikota Kendari.

Menurut Ali Mazi, pembangunan kawasan, beberapa bangunan utama termasuk Tugu Persatuan merupakan symbol semangat, cita-cita dan tujuan luhur untuk membangun daerah dan manusia Sulawesi Tenggara yang damai dan sejahtera  di dunia bahkan diahirat nanti.

Ali Mazi memimpikan masyarakat Sulawesi Tenggara yang terdiri dari berbagai macam etnis dan agama  untuk bekerja keras, bahu membahu, membangun Sultra. Menara ini memang dirancang dengan bentuk dan setiap bagian penuh dengan simbol- simbol kehidupan yang positif.

Tugu Persatuan  yang didesain oleh arsitek Danny Pomanto ini penuh dengan Simbol-simbol budadaya daerah. Ini  tergambar dari hampir semua bagiandan bentuk dari bangunan tersebut. Setiap bentuk dan setiap bagian memiliki makna tersendiri, namun merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Mari kita liat dari dasar menara. Di dasar menara rencananya dibuat kolam yang melingkar bulat melambangkan Kalosara – lambing persatauan bagi masyarakat suku Tolaki – penduduk asli kota Kendari. Kedalaman air kolam tersebut hanya 60 cm. Air melambangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan.

Setelah pondasi, berdiri tegak lima tiang penyangga melambangkan Pancasila . Di atas tiang penyangga  terdapat sebuah Bundaran  besar seperti mutiara dan dikelilingnya ada tiang kecil menghadap keatas seolah olah lima jari tangan sedang berdoa. Angka lima ini melambangkan ada lima etnis paling banyak penghuni  Sulawesi Tenggara yang ini suku Tolaki, Muna, Buton, Moronene dan Bugis.

Menara persatuan tingginya 95 meter,  melambangkan jumlah angka dari ulang tahun Sultra, 27 April 1964 (27 + 4 + 64 = 95) Di Ujung Menara dipasang antenna anti petir 4 meter. Jadi tingngi keseluruhan menara 99 meter , melambangkan Asmaul-husna yakni 99 nama Allah sebagaimana keyakinan umat Islam.

Kacuali Menara, beberapa sisi bangunan menara tersebut belum rampung hingga berahirnya masa jabatan Gubernur Ali Mazi. Lantai, kolam tangga lift untuk naik ke puncak menara belum rampung termasuk  lantai basemen dan lantai dua yang mengelilingi menara. Lantai pertama untuk museum sejarah perjalanan Sulawesi Tenggara. Lantai dua untuk berbagai fungsi  dianataranya rencana pembangunan Sulawesi Tenggara ke depan.

Meski belum rampung ,Tugu itu, nampak sebagai karya yang berdiri kokoh dan berkelas di tengah jantung kota Kendari . Apalagi disekelilingnya tak ada bangunan yang lebih tinggi dan lebih indah dari pada  Menara Persatuan. Tugu Persatuan sudah menjadi icon atau landmark kota Kendari.

Namun di era kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam, tugu yang sudah menjadi icon kota Kendari itu  tak diurus. Tugu tersebut dibiarkan begitu saja tanpa pemeliharaan. Pembangunan tak dilanjutkan.

Beberapa sisi bangunannya seperti lantai dasar tak diteruskan pembangunannya hingga hanya meninggalkan onggokan  beton dan kayu begisting. Sebagian kacanya mulai pecah,, kolam tak diselesaikan, lift untuk  mencapai puncak menara tak dipasang pasang meski sudah pernah dianggarkan pembeliannya.

Dari kejauhan, Tugu Persatuan nampak berdiri kokoh dan berkelas.Di puncak  Tugu Persatuan, orang  bisa menyaksikan keindahan kota Kendari yang bercirikan kota pantai dan gunung. Hampir semua tamu yang berkunjung ke Kota Kendari , selalu ke Tugu Persatuan untuk meliat dari dekat Tugu tersebut dan tak lupa  menjadikannya sebagai latar belakang foto selfi, sebagai bukti bahwa dia pernah ke Kota Kendari.

 Gubernur Nur Alam hanya membenahi pelataran lokasi MTQ Squere , lokasi tempat berdirinya  tugu tersebut. Itupun beberapa desainya yang penuh makna simbolik sudah di rubah. Sebagian Kolam yang dilengkapi dengan air macur sudah ditimbun. Padahal, dengan  Kolam, selain menambah artistiknya lokasi tersebut . Dan yang lebih penting keberadaan Kolam  itu bermakna simbolik untuk menggambarkan bahwa Sulawesi Tenggara adalah provinsi Kepulauan . dipenghujung tahun 2015, Nur Alam bahkan mengubah nama karya pendahulunya itu dengan nama Tugu Relegi.

Penulis : Sudirman Duhari

 

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *