Home » EKONOMI & BISNIS » Media Cetak Menjadi Industri Senja, Menyusul Televisi (1)
Seminar PWI ok

Media Cetak Menjadi Industri Senja, Menyusul Televisi (1)

Selama tiga hari (17 – 18) November 2017, Persatuan Watawan Indonesia (PWI) se Indonesia menyelenggarakan Konferensi Kerja Nasional dan Seminar Nasional di Benkulu. Acara ini mengusung Tema : Revolusi Digital : Peluang dan Tantangan Bagi Pers Serta Pembangunan Daerah. Acara ini diikuti oleh para Ketua, Sekretaris dan Dewan Kehormatan  PWI Provinsi  Se Indonesia. Berikut ini catatan Sudirman Duhari, Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Provinsi Sulawesi Tenggara.

Revolusi Digital yang ditandai dengan dahsatnya perkembangan tenologi informasi saat ini tak bisa dikendalikan. Perkembangan tehnologi telah meyerbu ke semua jenis bisnis, termasuk bisnis media di Indonesia. Informasi yang dahulunya berbayar, kini berubah menjadi Informasi gratis dan lebih mudah diakses. Cukup memiliki gadget . Sekali pencet bahkan cukup sentuh layarnya, kita bisa mendapatkan semua informasi gratis yang kita butuhkan.

Perkembangan tehnologi telah memberi kemudahan, namun disisi lain, bisa juga menghancurkan tiga pilar pers yakni Idealisme,  komersialisme, profesionalisme. “Perkembangan tenologi juga   menghancurkan pilar pers.” kata Hendry Ch Bangun, Sejen PWI Pusat ketika ketika membawakan materi Media VS Digital.

Karena itu kata Hendry, Media cetak menjadi Industri senja , media televisi segera menysul. Sayangnya, Media digital belum berkembang sesuai harapan.

Ditengah kondisi ini media terutama media cetak bertumbangan karena gagal mengantisipasi.  Oplah Media cetak turun,sulit mendapat iklan. Kondisi ini makin diperpaah lagi dengan harga kertas koran yang  kian mahal. Keuntungan makin merosot.

Meski tidak ada angka yang pasti, tetapi pendapatan media cetak mengalami penurunan rata rata 40 persen pada tahun ini. Kecuali yang terkena efek Meikarta, ada sedikit penahan kemerosotan.

PHK terbuka, pembekuan atau penundaan gaji melanda puluhan majalah serta sejumlah surat kabar karena pendapatan tidak sebesar pengeluaran. Masih segar diingatan kita baru baru ini koran sindo ditutup Sejumlah karyawan terpaksa di PHK.

Memang benar, ada media yang terkait grup besar bertahan meski hidup segan mati tak mau. Media besar coba bertahan dengan mencari terobosan. Sementara media menegah apalagi media kecil langsung tiarap.

Perusahaan suarat kabar menjalankan dua langkah untuk bertahan dengan membuat versi e-paper (pendapatan dengan dengan pelanggan berbayar) dan atau membuat versi online (pendapatan dari iklan)

Perusahaan pers jenis majalah , tabloit, sulit bertahan karena tidak cocok dengan tuntutan audiens. Semua informasi bisa diperoleh gratis dan cepat, tak perlu beli atau langganan. Kecuali isinya premium.

Perusahaan media online tumbuh cepat dan tubuh bak jamur dimusim hujan. tapi hanya segelintir yang layak bisnis, mutu belum terbukti. Jumlah wartawan makin bertambah, hususnya wartawan yang bekerja di media online.

Da banyak pertanyaan antara lain , masih adakah masa depan media cetak  dan bagaimanakah masa depan media siber ?  Ikuti tulisan bagia ke 2 tulisan ini (Sudirman D)


Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Sekolah Partai ok

Asrun – Hugua Sekolah Partai Sebagai Calon Kepala Daerah

JAKARTA, MYSULTRA.COM – Ir. Hugua Ketua DPD PDI Perjuangan Sultra yang juga sebagai Calon Wakil ...

Presidem Jokowi ok

Presiden Jokowi : Pencegahan Korupsi Harus Terus Dilakukan Lebih Serius

JAKARTA, MYSULTRA.COM – Presiden Jokowi menegaspan, upaya pencegahan korupsi harus terus dilakukan lebih serius. “ ...