Home » INDONESIA » Manis dan Pahit Indonesia Open 2014

Manis dan Pahit Indonesia Open 2014

My sultra – Sport: Hampir dua pekan turnamen BCA Indonesia Open Super Series Premier 2014 yang didukung oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation usai. Namun, euforianya masih terasa hingga kini.

Turnamen yang digelar 17-22 Juni 2014 di Istora Senayan tersebut memang menyisakan cerita manis dan pahit. Dari sisi penyelenggaraan, Indonesia mendapat pujian dari Badminton World Federation (BWF). Namun dari sisi prestasi, tim Merah Putih gagal meraih satu pun gelar. Artinya, hasil tahun ini lebih buruk dibandingkan tahun 2013 ketika Indonesia mampu meraih satu gelar dari ganda putra melalui Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan.

Jika dilihat dari animo penonton yang hadir, Indonesia boleh berbangga hati. Istora Senayan sudah dipenuhi penonton di hari pertama penyelenggaraan atau babak kualifikasi. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sekitar 5000 tiket ludes di hari pertama penyelenggaraan BCA Indonesia Open Super Series Premier 2014 yang didukung oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation.

Penonton yang hadir di Istora Senayan rela menunggu hingga larut malam demi menyaksikan pahlawan-pahlawan bulutangkis Indonesia berlaga meski yang bertanding kebanyakan pemain-pemain muda. Hal itu tak menyurutkan dukungan penonton yang memang haus akan prestasi di dunia bulutangkis.

Kenyataan ini tak hanya membuat panitia terkesima, tapi juga para pemain yang berlaga sejak babak kualifikasi. Salah satunya adalah ganda campuran Belanda, Jacco Arends/Selena Piek. Selena, yang ditemui di area mixed zone setelah dikalahkan pasangan Korea Selatan, Lee Yong Dae/Shin Seung Chan, 17-21 dan 8-10 di babak perempatfinal, mengaku terkejut.

“Ini luar biasa. Saya belum pernah melihat penonton sudah ramai di babak kualifikasi. Ini kali pertama kami bermain di Indonesia, dan dukungan yang mereka berikan sungguh fantastis,” ujar Selena, yang harus mundur di game kedua karena Jacco mengalami cedera di lengan kirinya.

Rasa takjub juga diungkapkan tunggal putri Spanyol, Carolina Marin. Pemain yang langkahnya terhenti di babak kedua oleh tunggal Tiongkok, Wang Shixian, 17-21 dan 13-21, mengatakan baru pertama kali melihat dukungan penonton yang luar biasa sejak babak kualifikasi.

“Indonesia Open adalah turnamen favorit saya. Istora adalah tempat favorit saya. Jadi, bermain di sini rasanya seperti main di rumah sendiri. Tak hanya pemain Indonesia, penonton juga memberikan dukungan kepada kami para pemain asing. Saya tak pernah ingin melewati kesempatan tampil di sini,” ungkapnya.

Seperti penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, penonton yang mayoritas adalah remaja tersebut, ingin melihat langsung aksi para pemain bulutangkis kelas dunia dari dekat. Bahkan, mereka rela menunggu di pintu tempat para pemain masuk ke Istora Senayan demi sekadar berfoto bersama atau meminta tanda tangan.

Dan, seperti sudah diduga, sosok Lee Yong Dae masih menjadi primadona. Pria Korea Selatan berwajah tampan itu selalu mengundang histeria penonton putri yang memenuhi Istora Senayan. Bahkan, saking populernya, Shin Seung Chan yang merupakan pasangan ganda campuran Lee Yong Dae, mengaku terkejut. (INL)

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *