Home » Headline » Malam Seribu Bulan

Malam Seribu Bulan

                                                                                       Oleh : Makmur Ibnu Hadjar

            Seorang ulama sufi dari Turki Muzaffer Efendi mengatakan, seperti yang dinukil oleh  Robert Frager dalam bukunya Sufi Talks: Teachings Of an American Sufi  Sheikh,  bahwa ; “berkah itu lebih tersedia di waktu dan tempat tertentu”.  Salah satu waktu atau moment yang penuh berkah adalah Lailatul Qadar. Dimalam itu, selubung antara dunia dengan surga menjadi sangat tipis. Maha suci ALLAH, dengan segala sifat kesucianNYA.

Berkah  Ilahiah  termanifestasi dari salah satu nama ALLAH yaitu Ya Wahab-Yang Maha Pemberi. Berkah itu turan laksanakan hujan kepada setiap orang dan kepada segala sesuatu. Muzaffer Efendi, selanjutnya menyatakan bahwa berkah dan rakhmat ALLAH itu selalu dilimpahkan kepada kita, tetapi harus menggunakan sifat ALLAH lainnya yaitu Ya Fattah-Yang Maha Pembuka. Berkah ALLAH yang senantiasa mengalir itu, dan memang pada dasarnya (esensinya) kita punya kapasistas untuk merengkuh berkah itu.  Meraih berkah Ilahiah pada malam seribu bulan  itu, menuntut dari kita untuk terbuka secara spiritual dan secara muamalah (manifestasinya zakat dan sadeqah). Pada malam seribu bulan ini (al-Qadar), semestinya kita memiliki sikap  spiritual yang lebih terbuka kepada surga, bukannya justru surga yang lebih terbuka kepada kita. Malam al Qadar, merupakan malam yang tidak terbatas dari sisi makna dan berkah yang terkandung padanya. Peristiwa malam lailatul qadar adalah peristiwa yang menegaskan tentang kebenaran, Kebenaran yang esensinya  adalah  ketundukan dan kepasrahan hanya kepada ALLAH. Maknanya generiknya adalah kepatuhan (din) secara total kepada ALLAH, dengan diikuti sikap yang pasrah (islam).- Innadina inda llahil Islam (Q:3;19). Jika  diterjemahkan   menurut   makna   asal   kata-katanya, yaitu ; “sesungguhnya kepatuhan bagi ALLAH ialah sikap pasrah kepadaNya”.

Peristiwa al Qadar adalah  peristiwa yang tak terbatas dari  sisi makna dan berkah yang meliputi segala waktu dan tempat. Al Qur’an menegaskan bahwa malam al Qadar itu adalah malam kemuliaan, lebih baik dari seribu bulan (Q: al-Qadar:97:3)

            Pada malam al Qadar itu wahyu pertama diturunkan kepada Muhammad SAW, di gua Hira-di pinggir Makkah, kala itu.  Setelah itu ALLAH menurunkan wahyu Al Qur’an dalam rentang bilangan waktu yang penuh misteri yaitu dua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh dua hari. Maha suci ALLAH dengan segala sifat kesucianNYA  Menurut salah satu penafsiran, bahwa Al Qur’an diturunkan secara bertahap guna memelihara momentum komunitas Muslim yang sedang tumbuh. Setiap wahyu yang turun merupakan tanggapan atas masalah yang terjadi saat itu  dan petunjuk serta penjelasannya, atas berbagai permasalahan yang dihadapi umat manusia, masa lampau, kini dan sampai akhir zaman (yaumil qiyamah).

Robert Frager melukiskan secara komprehensif dari esensi atas eksistensi al-Qur’an, bahwa al-Qur’an tidak bisa dikungkung  dalam lembar-lembar kertas atau kulit, atau material lainnya. Kata-kata dalam al-Qur’an seperti jari yang menunjuk kearah kebenaran. Al-Qur’an tidak ditulis dikertas, juga bukan kata-katanya yang bisa dibaca. Ada suatu mujizat yang tersembunyi ketika seseorang membaca ayat Al-Qur’an. Setiap ayat  Al-Qur’an  melampaui apa yang bisa dituturkan oleh mulut manusia. Setiap ayat  Al-Qur’an adalah pertanda akan adanya Tuhan. Merujuk  arti dari pada kata “ayat” itu yang berarti “tanda”, Maka setiap ayatullah – merupakan percikan tanda dari Tuhan atas kebenaran universal, atau kebenaran karena sesungguhnya dia memang benar (benar secara antologi)

Lailatul Qadar, adalah malam yang paling suci dalam putaran waktu satu tahun, doa kita yang tulus akan diijabah oleh ALLAH, karena malam itu momentum turunnya KEBENARAN dari ALLAH untuk alam dan umat manusia, bersamaan  dengan itu naiknya doa dan ibadah kita keharibaan ALLAH SWT. Malam itu adalah malam untuk membuka hati kita kepada ALLAH, kita nyatakan keluh-kesah kita, kita nyatakan dosa-dosa kita secara jujur-sambil secara ihlas memohon ampun, kita doakan atas orang-orang yang kita cintai untuk mereka mendapatkan rakhmat dan magfirahNya, dan jalan kebenara. Kita berdoa agar kualitas spiritual kita terus berkembang dan istiqamah. Malam itu, malaikat menyertai kita dalam beribadah dan berdoa. Bersamaan dengan meluncurnya doa dari lubuk hati dan bibir kita, maka serta merta mereka membawanya keharibaan ALLAH Yang Maha Agung. Wallahuallambisawab.

*).Makmur Ibnu Hadjar ; Alumni UGM Yogyakarta dan Curtin University Of Technology, Perth.

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Undang-undang dan Perda Syariah: Ada atau Tidak Ada?

Oleh: Yusril Ihza Mahendra (Seri tulisan merespon esai Denny JA: NKRI Bersyariah atau Ruang Publik ...

Kemendagri Jelaskan Kedua Kasus KTP-el Adalah Murni Tindak Pidana.

Jakarta- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), through Mendagri Tjahjo Kumolo Beroperasi Langsung menyampaikan penjelasannya, Berlangganan penanganan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *