Home » Berita Terpopuler » Kemarau Ancam Persediaan Pangan

Kemarau Ancam Persediaan Pangan

Mysultra – Jakarta

Kekeringan akibat kemarau panjang mulai menimpa beberapa wilayah di Indonesia. Sejumlah tanaman petani gagal panen. Bahkan, tak ada lagi rumput yang tumbuh, yang biasanya menjadi pakan ternak.
Masyarakat rela berjalan ratusan meter hingga puluhan kilometer dan berjam-jam antre untuk mendapatkan air bersih. Tak hanya itu, air kotor dan tak layak dikonsumsi pun, mau tak mau menjadi pilihan terakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan bahwa persediaan pangan pada akhir tahun ini terancam, apabila kekeringan yang terjadi saat ini terus berkepanjangan. Untuk itu, pemerintah harus mulai menyiapkan langkah antisipasi.
Kepala BPS, Suryamin mengungkapkan bahwa impor komoditas pangan, khususnya pangan stategis, seperti beras misalnya, harus segera dilakukan untuk memenuhi persediaan pangan awal tahun depan.
“Beli dulu stok, keluarkan pada saat keadaan mengkhawatirkan,” ujarnya, saat ditemui di Jakarta.
Memang, menurut Suryamin, hingga akhir tahun ini diperkirakan persediaan pangan akan mencukupi. Sehingga, laju inflasi masih dapat terkendali, dan daya beli masyarakat diharapkan dapat dijaga.
“September, Oktober, dan November, saya duga tidak akan terlalu besar (dampak kekeringan). Pakai produksi yang kemarin-kemarin. Januari dan Februari yang akan berdampak,” tambahnya seperti yang dikutip Vivanews.
Untuk itu, menurut Suryamin, harus ada langkah konkret pemerintah untuk mengantisipasi masalah ancaman persediaan pangan itu. Jika tidak ada kebijakan khusus, kesejahteraan masyarakat terancam. “Karena iklim tidak begitu bersahabat,” ungkapnya.
Kabupaten Malang mempunyai cara sendiri dalam menghadapi musim kemarau ini. Malang diketahui, mengalami surplus beras hingga 65 ribu ton sepanjang 2014. Surplus tersebut di luar beras yang telah dikonsumsi sekitar tiga juta lebih masyarakat Kabupaten Malang.
Bupati Malang, Rendra Kresna menyatakan bahwa kelebihan beras ini dipasok untuk sejumlah daerah di Jawa Timur. Setelah itu, Pemkab Malang akan menggalakkan intensifikasi sistem tanam padi, atau System of Rice Intensification (SRI) untuk meningkatkan hasil panen di tengah semakin sempitnya lahan pertanian dan krisis air yang melanda di musim kemarau seperti saat ini.
“Ada sekitar 45 ribu hektare sawah di wilayah Kabupaten Malang,” ujar Rendra di Malang, Jawa Timur.
Ia menjelaskan, jika dikelola dengan maksimal, semua lahan produktif tersebut mampu menghasilkan hingga 12 ton padi per hektare. Namun, jumlah lahan tanam yang ada terus menyusut sepanjang tahun. Selain itu, kesulitan air juga dirasakan sebagai kendala untuk menghasilkan panen berlimpah di musim kemarau.
Untuk mengatasi kendala itu, kata Rendra, petani mulai mengembangkan teknologi pertanian dengan pola SRI. Sistem ini dinilai baik, karena selain irit air dan bibit tananam, pemupukan juga menggunakan pupuk organik.
“Sistem ini baik untuk menghasilkan panen yang optimal, selain itu ini juga bisa mengatasi kendala infrastruktur irigasi tersier yang belum ada,” kata Rendra.
Dinas Pertanian Kabupaten Malang, saat ini juga gencar memberikan penyuluhan pertanian melalui sekolah lapang. Sehingga, diharapkan petani mengikuti kemajuan di bidang teknologi pertanian yang selalu berkembang.
Dari total penduduk Kabupaten Malang, sekitar 80 persen bekerja di sektor pertanian. Diharapkan, para pemuda juga bisa menjadi penerus orangtuanya yang bekerja sebagai petani. “Para pemuda bisa mengembangkan pertanian di desanya. Tak perlu menjadi buruh pabrik di kota,” kata Rendra.
Dia melanjutkan, dengan menggunakan teknologi dalam pertanian, bobot padi semakin berat dan bulir padi semakin banyak. Menurutnya, ketahanan pangan menjadi ujung tombak program ketahanan nasional. Jika ketahanan pangan kedodoran, akan menjadi ancaman dalam ketahanan nasional.
Petani pun diharapkan mengubah pola makan dengan mengurangi konsumsi beras. Sumber karbohidrat, menurut Rendra, bisa diganti dengan singkong, jagung, dan aneka jenis umbi-umbian.
Selain itu, untuk memulihkan pasokan air irigasi, para petani diajak untuk lebih gencar menanam pohon. Tujuannya, untuk memulihkan sumber mata air agar air melimpah. Sebagai contoh Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, yang mengalami kekeringan karena sumber mata air mati.

Sedangkan tanah bebatuan membuat sulit untuk ditanami. Namun, karena warga desa itu terus menanam pohon, hasilnya pohon hidup subur serta air mengalir melimpah.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang, Tomy Herawanto mengatakan pola tanam SRI terbukti mampu meningkatkan hasil produksi pertanian. Asal dikelola intensif dengan pupuk berimbang.
“Pupuknya menggunakan pupuk organik, selain ramah lingkungan juga bisa menghemat biaya produksi karena harganya sangat terjangkau. Bahkan, bisa dibuat sendiri,” katanya.
Ketua kelompok tani Sari Tani, Ahmad, mengatakan dengan cara penanaman model SRI, produksi gabah meningkat. Jika sebelumnya per hektare hanya menghasilkan enam ton gabah, dengan SRI panen bisa melonjak menjadi delapan ton.
“Penyuluhan dari pemerintah membantu transfer teknologi pertanian. Kami membutuhkan banyak pengetahuan dan dukungan modal alat untuk meningkatkan hasil panen,” kata Ahmad.
Lain halnya, dengan petani di Kalimantan Selatan. Kemarau panjang yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir ini, justru dimanfaatkan para petani di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Mereka menanam bawang merah di lahan kering seluas lebih 26 hektare di Desa Shabah, Kecamatan Bungur.
Penanaman kali ini sesungguhnya adalah kali ketiga. Para petani sudah dua kali memanen bawang merah dengan kualitas dan hasil produksi yang cukup memuaskan di lahan seluas lima hektare.
Menurut Sukarlis, Ketua Kelompok Tani, struktur tanah di desa itu cocok untuk menanam bawang merah. Itu juga yang menjadi alasan Pemerintah Kabupaten untuk mengembangkan areal penanaman bawang merah hingga puluhan hektare.
Dengan potensi itu, diyakini di masa mendatang ketergantungan Kalimantan Selatan, terhadap bawang merah dari Jawa bisa dikurangi. Setiap tahun, Kalimantan Selatan kekurangan paling sedikit 14 ribu ton bawang merah. Itu harus dipasok dari pulau Jawa.
Bibit bawang merah untuk penanaman perdana klaster itu sebagian dari hasil panen sebelumnya. Dari lima hektare lahan yang ditanam, menghasilkan 12 ton bawang merah siap panen.

sawah-kering


Kemarau ini wajar

Sementara itu, Pakar Agroklimat dan Perubahan Iklim Balitbangtan Kementerian Pertanian, Irsal Las, menganggap kemarau yang terjadi tahun ini masih wajar.
“Iklim yang sekarang tidak begitu kering. Itu wajar,” kata Irsal, ketika dihubungi VIVAnewspada Senin 22 September 2014.
Dia mengatakan bahwa tahun ini juga masih terjadi hujan di beberapa daerah pada musim kemarau ini, misalnya di Bogor. Hal ini, berbeda dengan di wilayah Indonesia Timur yang termasuk daerah kering.
“Itu musim kemaraunya lebih lama di Indonesia Timur. Cuaca kita belum terlalu ekstrem,” kata Irsal.
Selain itu, pihaknya menerima informasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian bahwa produksi tanaman pangan belum terdampak dari kekeringan ini.
“Saya mendapat informasi dari Dirjen Tanaman Pangan, kalau nggak berdampak. Mungkin dicek saja di Ditjen Tanaman Pangan, karena mereka yang mengecek sehari-hari,” kata dia.

Dampak dari kekeringan yang terjadi di beberapa tempat saat ini, dinilai Bank Indonesia juga belum terlihat menghantam daya beli masyarakat. Pengaruh fenomena alam itu tidak terlalu signifikan medorong inflasi hingga akhir tahun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Tirta Segara kepadaVIVAnews menjelaskan, dampak kenaikan tersebut tidak terlalu besar karena kekeringan yang terjadi tidak merata di seluruh di Indonesia.
Sehingga, menurutnya, hal ini sudah masuk ke perhitungan BI sebesar 4,5+- 1 persen pada tahun ini. “Kalau tahun ini dampaknya tidak berat. Terus, ini kan sudah mendekati akhir tahun, sehingga beban akhir tahun tidak besar,” ungkapnya, Senin.
Dia mengatakan, BI memprediksikan kekeringan pada tahun ini memang baru akan mulai terjadi pada September ini. Meskipun tidak sebesar tahun lalu, ia berharap tidak akan menghantam daya beli masyarakat.
“Dampaknya tidak besar, karena di sebagian tempat sudah ujan dan tidak merata sudah masuk hitung-itungan BI,” ungkapnya.
BI, menurutnya, akan terus menjaga stabilitas inflasi dengan berkoordinasi bersama pemerintah untuk meredam faktor-faktor pendorongnya. Jika berkelanjutan, diperkirakan dampaknya baru akan terasa bulan depan.
“Saat ini, artinya daya baya beli masih terkendali meskipun ada kekeringan ini,” tegasnya.

Air tak layak dikonsumsi
Kekeringan akibat kemarau panjang terus menimpa beberapa wilayah di Indonesia. Akibatnya, masyarakat mulai kesulitan mencari air bersih dan hanya mengandalkan air kotor untuk kebutuhan sehari-hari.
Di Sikka, Nusa Tenggara Timur misalnya, warga terpaksa meminum air dari kubangan, karena sarana air bersih milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) macet.

Di bantaran kali Magelo, warga membuat kubangan. Mereka terus menerus menggali pinggiran kali itu hingga menemukan sumber air.
Di pinggir galian itu, warga meletakkan batu untuk menahan air agar tidak luber. Untuk mendapat air bersih, warga harus sabar menunggu seharian agar air yang keruh karena bercampur tanah itu menjadi jernih. Air dari kubangan itulah sebagai sumber air bersih untuk memasak dan minum.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mencuci dan mandi, warga harus menempuh jarak ratusan meter untuk mendapatkan air. Menurut salah satu warga, Lucia, untuk mandi dan mencuci, mereka biasanya menggunakan air kali yang bercampur lumpur dan kotoran ternak.
Sebenarnya, kesulitan air bersih di Sikka sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Namun, Pemerintah Kabupaten hanya membuatkan bak penampungan air, sehingga ketika musim kering seperti saat ini, bak pun ikut kering.
Kekurangan air bersih juga dirasakan oleh ribuan warga disejumlah kecamatan di Kabupaten Garut Jawa Barat. Bahkan, krisis air juga dirasakan hingga daerah perkotaan seperti Perumahan Cempaka Indah, Kecamatan Karangpawitan, Garut.
Untuk mendapatkan air untuk keperluan sehari-hari ratusan warga terpaksa mengantri air disalah satu rumah warga hingga larut malam.
Padahal, seluruh warga di perumahan ini sudah berlangganan air bersih melalui PDAM Garut. “Ya, air tidak mengalir, ini sudah sering, dan yang terakhir air sudah tiga hari tak datang “, ujar Jhon Suyatno, ketua RW setempat.
Untuk mendapatkan air bersih sehari-hari warga perum terpaksa harus mengantre air sejak siang hingga malam hari bahkan hingga pagi hari.
Warga berharap, pihak PDAM Garut segera mengatasi kesulitan air yang selama ini dialami warga yang umumnya pelanggan PDAM. “Kami sudah bosan meminta, tetapi mudah-mudahan tahun ini aspirasi kami didengar,” kata Suyatno.
Sementara itu, ketika dikonfirmasi, Direktur Utama PDAM Garut, Doni Suryadi, memohon maaf dan mengaku bahwa untuk warga perumahan Cempaka Indah sudah sejak lama sering tak mendapat aliran air akibat gangguan listrik disumber air Cipulus Cilawu.
“Bukan hanya di perumahan Cempaka Indah, sejumlah pelanggan di sejumlah kecamatan di kawasan perkotaan Kabupaten Garut juga sering mengalami kekurangan air,” kata dia.

Sementara itu, musim kemarau panjang ini mulai membuat tiga kampung di Desa Tapos, Tenjo, Kabupaten Bogor ini mengalami krisis air. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, warga Desa Tapos ini harus menempuh jarak 40 kilometer menuju sebuah sumur yang berada di tengah sawah.
Sumur yang terletak di Kampung Hajere, Kecamatan Tapos ini adalah satu-satunya sumber air yang belum mengering di desa itu. Sementara itu, sumur lainnya kering kerontang. Sehingga, sebanyak 365 kepala keluarga di tiga kampung ini harus mengantre untuk mendapatkan air.
Tetapi, ternyata sumur itu menghasilkan air yang kuning dan bau. Namun, setiap hari warga tetap saja mengantri mendapatkan air untuk mandi dan memasak.
Salah satu warga Desa Tapos, Sumiati mengaku sudah mengonsumsi air kotor itu selama tiga bulan. Dia berharap pemerintah daerah menyediakan jet pompa untuk memasok air bersih. (adi)


Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

HPN

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

bangsoet mysultra

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *