Home » Berita Terpopuler » Ini Alasan Pemilihan Bokeo Mekongga Sesuai Mekanisme

Ini Alasan Pemilihan Bokeo Mekongga Sesuai Mekanisme

Kolaka,MySultra.Com
Beberapa alasan pembenaran yang dikemukakan mantan ketua panitia penobatan/pengukuhan Bokeo (Raja) Mekongga ke XIX, Akhdan menjawab kritikan terkait pemilihan hingga penobatan Bokeo.
Pertama ‎pemilihan Khaerun Dachlan sebagai Bokeo Mekongga ke XIX (Sembilan belas),  mengantikan mendiang Hj. Nursaenab Lowa sudah sesuai mekanisme pemilihan Bokeo karena ‎dipimpin Kapita dalam hal ini Hasdin Al Juddawi. Saat itu, para keluarga Bokeo mengajukan delapan calon Bokeo dan akhirnya terpilih Khaerun Dachlan sebagai Bokeo Mekongga ke XIX. Adapun pitu tonomotuo (tujuh orang tua) bukan yang memilih Bokeo, sebab tugas mereka adalah menobatkan Bokeo.
“Seorang Bokeo yang memiliki wilayah yang cukup luas masa hanya dipilih 7 orang tua.”kata Akhdan, Rabu (15/4/2015).
Adapun wakil Bokeo, memang pada saat pemilihan ditunjuk Munaser Arifin, tapi secara de facto masyarakat Mekongga tidak menerima adanya wakil Bokeo sehingga tidak dilakukan penobatan wakil Bokeo. Alasan kenapa muncul wakil Bokeo berdasarkan keterangan Munaser Arifin bahwa pada pemerintahan Bokeo Bula tahun 1904, dirinya tidak mau menerima kerja sama dengan pihak Belanda, sehingga ditunjuklah wakil Bokeo untuk menjalankan tugas-tugas kerajaan atau bisa disamakan pelaksana tugas Bokeo, hingga diangkatnya Bokeo Latambaga. Alasan Munaser saat itu diterima.
Terkait mahkota Bokeo Mekongga yang dikenakan Khaerun Dachlan, memang tidakla sama dengan mahkota yang dikenakan Bokeo sebelumnya. Namun karena disadari bahwa budaya itu sifatnya dinamis, sehingga bisa saja dilakukan modifikasi tanpa merubah makna kerajaan itu sendiri. Dengan mahkota yang menggambarkan burung Kongga atau Garuda, memberikan identitas kerajaan Mekongga, sehingga masyarakat tahu arti dari kerjaan Mekongga dengan melihat mahkota kerajaan.
Meski demikian, Akhdan setuju dengan pernyataan Djabir yang harus lebih menonjolkan lembaga adat Mekongga dibandingkan Bokeo, sehingga dilakukan perubahan struktur kerajaan, dimana terdapat majelis adat dengan menempatkan Bokeo Mekongga dengan perangkat-perangkatnya. ‎Setelah itu ada dewan adat kerajaan dengan ketuanya wakil Bupati Kolaka, Muhammad Jayadin yang saat ini sementara disusun kepengurusannya.
“Nantinya yang paling banyak berperan adalah dewan adat kerajaan, sementara Bokeo itu sebagai simbol bahwa kerajaan Mekongga itu ada, sebab dewan adat tidak pernah akan ada jika kerajaan atau Bokeo tidak ada.”tegas Akhdan.(A Arsyad)

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *