Home » Berita Terpopuler » Dokter Junuda Dikecam Keluarga Pasien RSJ

Dokter Junuda Dikecam Keluarga Pasien RSJ

 Amran Arsyad didampingi petugas jaga UGD, H. Bustam ketika akan menandatangani surat keluar paksa karena marah dan kecewa atas kelakuan dr. Junuda.
Kendari,MySultra
Perbuatan tidak terpuji dipertontonkan salah seorang oknum dokter Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kendari, yakni dr. Junuda hingga mendapat kecaman dari keluarga pasien RSJ.
Kecaman atas perbuatan dr. Junuda yang telah membohongi keluarga pasien ini bermula ketika pasien dari desa Tikonu, kecamatan Wundulako, kabupaten Kolaka bernama Muh. Arsyad dibawah keluarganya untuk melakukan terapi di RSJ Kendari pada sabtu, 18 april 2015. Saat tiba di RSJ sekitar pukul 14.00 wita, perawat langsung melakukan observasi. Namun karena akan dibawa ke ruangan tempat orang yang hilang ingatan atau gila dengan alasan akan dilakukan observasi selama 1x 24 jam, Arsyad menolak masuk karena merasa tidak gila.
Awalnya keluarga menerima karena petugas menyampaikan bahwa dia dibawah ditempat orang gila hanya sebentar, sebab akan disuntik bius hingga tertidur, setelah itu akan dibawah ke ruangan VIP sebagaimana telah dipesan sebelumnya. Tapi karena Arsyad dibaringkan diranjang besi tanpa pengalas diruang isolasi, menyebabkan semua badannya sakit ketika bangun dan menangis.
Tidak tega melihat orang tuanya seperti itu, anak tertua Muh. Arsyad yakni Amran Arsyad menemui dokter yang bertanggungjawab di UGD yakni dr. Junuda ditempat praktiknya diseberang jalan didepan ruangan UGD atas petunjuk petugas UGD. Ketika ketemu dr. Junuda dan menjelaskan penyakit serta kondisi orang tuanya, Junuda berjanji akan menemui pasien setelah tutup praktek untuk mendiaknosa, sekaligus memindahkan ke kamar VIP yang sudah dipesan.
“Kami kasian melihat bapak ditempatkan ruangan orang gila dan tidur di ranjang besi tanpa dilapisi apa-apa, apalagi saya punya bapak tidak gila. Makanya kami minta supaya ditempatkan saja di kamar yang kami pesan, karena dia hanya butuh terapi untuk kakinya. Saat bertemu dr. Junuda, dia bilang ‎akan merubah statusnya dan memasukan ke kamar VIP kalau memang sudah pesan kamar. Dia berjanji datang setelah praktiknya ditutup.‎”kata Amran Arsyad, sabtu (18/4).
Namun sayang, hingga tempat praktek dr. Junuda tutup, sementara Arsyad terus meminta dipindahkan dan merasakan sakit sekujur tubuhnya, dr. Junuda tetap tidak datang. Bahkan ketika dokter muda yang jaga menghubunginya melalui SMS, Junuda tidak membalasnya. Justru ketika melewati UGD menuju rumahnya dia juga tidak singga di UGD. Hal inilah yang membuat keluarga Arsyad kecewa dan marah.
Merasa ditipu oleh dr. Junuda yang ternyata ingkar janji, keluarga Arsyad langsung mengambil sikap dengan mendatangi petugas jaga dan meminta supaya orang tuanya dibatalkan untuk rawat inap di RSJ dan memilih pulang, meski kondisi malam dan hujan, apalagi Arsyad baru mendapat perawat pada hari senin nanti.
“Itu namanya dr. Junuda telah membohongi kami. Kami sudah bersabar menunggu ternyata dia lebih pentingkan bisnisnya dibanding pasien yang ada di RSJ. Kalau begini caranya lebih baik keluar dari RSJ dan kerja saja di tempat praktiknya.”kata Amran dengan nada marah.
Amran mengaku apa yang dilakukan dr. Junuda tidak mencerminkan visi misi RSJ sebagaimana ditempel di RSJ, dimana visi RSJ adalah ‎menjadi RSJ rujukan dan pendidikan dengan pelayanan prima. Begitupun misinya yakni meningkatkan kualitas sumber daya RS yang mendukung upaya peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan paripurna kepada masyarakat. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada semua lapisan masyarakat secara cepat, tepat, nyaman dan terjangkau dengan dilandasi etika. Begitupun tertulis hak pasien, diantara berhak atas pelayanan manusiawi dan pelayanan medis.
“Percuma saja ditempel visi misi RSJ, tapi pada praktiknya tidak mencerminkan hal itu. Kami mempertanyakan pelayanan paripurna seperti apa? Apa hanya berlaku pada keluarga pejabat?. Kami curiga bukan hanya kami yang diperlakukan seperti ini, tapi pasien lain.”protesnya.
Salah seorang penjaga apotik UGD, H. Bustam yang ditemui keluarga Arsyad dan menyampaikan kekecewaannya tidak bisa berbuat banyak. Bustam hanya merasa kasian karena sudah jauh-jauh datang dari Kolaka tapi tidak bisa ditemui dokter. Karena itulah, pada saat Amran akan menandatangani surat keluar paksa, dia meminta H. Bustam untuk menuliskan bahwa mereka keluar karena dokter tidak ada.
“Kami maklum karena dokter sudah di SMS tapi tidak dijawab dan tidak datang. Saya akan tulis disini karena dokter tidak ada.”kata H. Bustam yang merasa kasian pada Muh. Arsyad dan keluarganya yang lama menunggu kedatangan dr. Junuda tapi ternyata tidak nongol.(A Arsyad)

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *