Home » Berita Terpopuler » Djoni Rosadi Mengaku Didzalimi dan Dicermarkan Nama Baiknya

Djoni Rosadi Mengaku Didzalimi dan Dicermarkan Nama Baiknya

Dirut PT DRI, Djoni Rosadi memberikan keterangan terkait kasus yang menimpanya di PN Kolaka.

Djoni Rosadi Mengaku Didzalimi dan Dicermarkan Nama Baiknya
MySultra – Kolaka

Direktur Utama (Dirut) PT Dharma Rosadi Internasional (DRI), Ir. H. Djoni Rosadi, pada persidangan Kamis, (21/8/2014) mengaku didzalimi dan nama baiknya dicemari karena tidak pernah melakukan penipuan dan pengelapan sebagaimana yang didakwakan kepadanya.
“Saya tidak pernah merasa melakukan penipuan dan pengelapan. Saya baru tahu CV Malibu di Mako Primob Polda sebagai saksi. Saya merasa teraniaya, didzalimi dan nama saya dicemarkan.”Kata Djoni Rosadi menjawab pertanyaan Penasehat Hukum atas apa yang dialaminya sejak di Polda Sultra hingga ke Pengadilan.
Ditanya majelis hakim yang diketuai Agus Darwanta,SH bersama dua anggota majelis yakni Gorga Guntur,SH,MH dan Afrizal,SH apakah dirinya mengetahui ada kerjasama antara PT DRI dengan CV Malibu, Djoni Rosadi menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu, nama CV Malibu baru diketahuinya pada saat adanya panggilan Polisi sebagai saksi pada tahun 2013. Terkait kerjasama dengan pihak ketiga, setiap ada kontrak semua harus atas izin khusus dari Dirut. Tidak boleh ada kontrak tanpa ada surat kuasa khusus atau persetujuan dari Dirut, apalagi kedudukan Tubagus Riko Riswanda saat itu selaku General Manager (GM) tidak memiliki hak untuk menandatangani kontrak kerjasama dengan CV Malibu. Sampai hari ini dirinya tidak mengakui adanya kontrak antara PT DRI dengan CV Malibu.
Menjawab pertanyaan majelis terkait kerjasama dengan Hongkong Silver, Djoni Rosadi mengungkapkan bahwa sebelum dirinya keluar negeri pernah bertemu di Jakarta. Namun penandatanganan kontrak kerjasama dengan Hongkong Silver tidak diketahuinya. Ini diketahuinya setelah ada laporan dari Oktia Hendra setelah dana Hongkong Silver masuk ke PT DRI. Karena uangnya sudah masuk, maka kewajiban harus dipenuhi, apalagi barangnya (ore) sudah tersedia berdasarkan informasi yang diberikan Dirops PT DRI Tabagus Riko Riswanda.
“Ternyata setelah 15 hari kapal masih ada sebagaimana yang dilaporkan, sehingga saya sebagai Dirut PT DRI memerintahkan saudara Oktia Hendra ke Pomalaa dan selanjutnya Oktia Hendra melaporkan bahwa keadaan ore diatas kapal tidak cukup hanya 11 ribu MT. Maka saya memerintahkan untuk segera melakukan penambangan agar ore mencukupi sebagai kontraknya. Saya sangat kecewa kepada Tubagus Riko Riswanda yang telah menandatangani kontrak, sementara ketersediaan ore tidak mencukupi.”Kata Djoni Rosadi.
Djoni Rosadi juga mengungkapkan  banyak data Joint Operasi (JO) yang disimpan oleh Tubagus Riko Riswanda dan dilaporkan kepadanya hanya sedikit, bahkan sebagian data JO baru diketahuinya setelah dilakukan sidang di pengadilan.
Ditanya JPU apakah pernah dilakukan rapat di Jakarta, Djoni Rosadi mengakui memang ada rapat dijakarta dengan pembahasan rapat tersebut adalah pengangkatan Tubagus Riko Riswanda sebagai Dirops PT DRI dan membicarakan terkait IPO.
Ditanya oleh Penasehat Hukum pernakah ada upaya damai yang dilakukan oleh pelapor dalam hal ini Dirut CV Malibu, Hamid Thalib kepada terdakwa, Djoni Rosadi menyatakan bahwa memang ada,  ketika dirinya ditangkap di bandara Soekarno Hatta saat akan berobat ke Singgapura, oknum penyidik Polda mengarahkannya supaya dirinya membayar Rp 19 Milyar kepada CV Malibu, kemudian turun menjadi Rp 6,5 Milyar dan terakhir melalui penghubung Hamid Thalib yakni Laode turun menjadi Rp 500 juta. Djoni bersikukuh tidak mau berdamai dan memenuhi permintaan mereka karena merasa tidak bersalah.
Ditanya PH terkait Tubagus Riko Riswanda ketika dipecat sebagai Dirops PT DRI para pendukungnya  rame-rame mengundurkan diri dari PT DRI, yang kemudian menjadi saksi, Djoni Rosadi dengan sedih mengatakan bahwa tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Tubagus Riko Riswanda, karena Riko sangat disayangi dan sudah dianggap sebagai anaknya sendiri karena sejak lulus sekolah Tubagus Riko Riswanda sudah tinggal di rumahnya. Inilah yang menjadi pertanyaannya selama ini kenapa Tubagus Riko Riswanda berbuat seperti itu. Tubagus Riko Riswanda telah dibesarkan tapi memperlakukan dirinya seperti itu.
“Saya menilai ini merupakan konspirasi, sebab CV Malibu munculnya pada tahun 2012. Kalau benar PT DRI memiliki utang, seharusnya Direktur CV Malibu, Hamid Thalib mencarinya ke Jakarta. Saya juga melihat ini adalah suatu rekayasa, karena Tubagus Riko Riswanda sudah dilaporkan ke polisi saat itu dengan adanya tunggakan pajak.”tegas Djoni Rosadi. (Armin)

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

HPN

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

bangsoet mysultra

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *