Home » Berita Terpopuler » Djabir Mengkritisi Pemilihan Bokeo Mekongga ke XIX
Djabir

Djabir Mengkritisi Pemilihan Bokeo Mekongga ke XIX

Kolaka,MySultra.Com:
Pemilihan Bokeo Mekongga ke XIX yang menetapkan H. Khaerun Dachlan sebagai Bokeo mengantikan mendiang Hj. Nursaenab Lowa, yang selanjutnya dilakukan penobatan dan pengukuhan Bokeo (Raja) Mekongga ke XIX yang baru saja dilaksanakan dan dihadiri Raja-Raja Nusantara, mendapat kritikan dari pemerhati adat Mekongga.
Salah satu tokoh Mekongga yang mengkritisi pemilihan Bokeo Mekongga ke XIX dalah Djabir Lahukuwi.  Alasan yang dikemukakan sehingga pemilihan Bokeo tidak sesuai mekanisme diantaranya, pemilihan Bokeo hanya diikuti segelintir orang dan tidak melibatkan pitu tono motuo (tujuh orang tua) dalam proses pemilihan sebagaimana dilakukan Bokeo terdahulu. ‎
“Seharusnya yang memilih adalah pitu tonomotuo (tujuh orang tua) tapi pada saat pemilihan mereka tidak dilibatkan.”kata Djabir, selasa (14/4/2015).
Djabir mengungkapkan, pada saat pemilihan Bokeo di Musholah Makam Sangia Nibandera di desa Tikonu, Kecamatan Wundulako hanya dihadiri segelintir orang, dimana saat itu muncul tiga calon Bokeo, yakni Munaser Arifin, Khaerun Dachlan dan Arsidin. Namun belakangan Arsidin mengundurkan diri. Karena Khaerun ngotot, akhirnya dia ditunjuk sebagai Bokeo dan Munaser ‎sebagai wakil Bokeo. Adanya wakil Bokeo memunculkan kegelian, sebab selama ini di kerajaan Mekongga tidak pernah mengenal yang namanya wakil Bokeo.
Djabir yang juga ketua LSM Forsda mengkritisi mahkota yang dikenakan Bokeo ke XIX pada saat penobatan, yang dinilai tidak sesuai dengan mahkota Bokeo Mekongga, sebab mahkota Bokeo mulai dari yang pertama tidak memiliki mahkota berlambang burung Kongga atau Garuda. Mahkota itu justru dibuat di tahun 2015 ini ketika akan dilakukan penobatan berdasarkan persepsi mereka sendiri.
“Orang-orang tua banyak yang protes, katanya mahkota yang dikenakan sejak Bokeo pertama yakni Larumbalangi hingga Bokeo berikutnya tidak memiliki burung Kongga di Mahkota itu. Ini jelas penyesatan sejarah. Saya kita Mahkota itu bisa didapat kalau semua duduk bersama bermusyawarah.”kata Djabir.
Djabir menilai keberadaan Bokeo saat ini tidaklah mencerminkan komunitas Mekongga, tapi meniti beratkan hanya pada keturunan mereka, bahkan orang yang mengaku darah biru saling gontok-gontokan. Karena itu diusulkan supaya saat ini sebaiknya yang ditonjolkan adalah lembaga adat Mekongga dan bukan Bokeo.
Diharapkan lembaga adat yang sudah terbentuk hendaknya melambangkan komoditas masyarakat Mekongga, bukan kepentingan pemerintah, sehingga meskipun Muhammad Jayadin nantinya tidak lagi menjabat sebagai wakil Bupati, lembaga adat tetap eksis dan mencerminkan komoditas masyarakat Mekongga.(A Arsyad)


Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Ketgam:
WR II USN Kolaka, Syahrir Sahaka

18 Pendaftar CPNS Tes SKB di USN Kolaka

KOLAKA, MYSULTRA.COM– Sedikitnya 18 orang pendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka, ...

Ilustrasi

Dinasti Korupsi Yang Dibentuk Di Atas Meja Makan keluarga

(Belajar Dari Dinasti Korupsi E-KTP, Dinasti Korupsi RS Sumber Waras dan Garuda Indonesia) Tradisi korupsi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *