Home » Headline » Dewan Pers Ingatkan Wartawan Hati – Hati Dalam Peliputan Terorisme

Dewan Pers Ingatkan Wartawan Hati – Hati Dalam Peliputan Terorisme

KENDARI, MYSULTRA.COM – Dewan Pers mengingatkan kepada wartawan agar hati-hati dalam peliputan aksi terorisme. Selain harus mengutamakan keselamatan dirinya juga harus sesuai dengan peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/IV/2015. Jika tidak hati-hati, pers justru dapat menyebarkan faham dan aksi teroris yang sangat menakutkan, mengerikan dan merugikan ditengah masyarakat.

Imam wahyudi anggota Dewan Pers RI, mengingatkan hal tersebut kepada wartawan peserta Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme di Kendari, yang diselenggarakan Forum Kordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tenggara (Sultra), jum`at (05/08/2016).

“Sesuai dengan peraturan Dewan Pers, ada 13 item yang menjadi rujukan atau pedoman dalam peliputan terorisme” tegas Imam. Disebutkan Imam antara lain Wartawan dalam menulis atau menyiarkan berita terorisme harus berhati-hati agar tidak memberikan atribut , gambaran atau stigma yang tidak relevan. Misalnya kata Imam, tidak menyebut agama yang dianut atau kelompok etnis sipelaku. Sebab kejahatan terorisme adalah kejahatan individu atau kelompok yang tidak terkait dengan agama ataupun etnis.

Wartawan juga harus selalu menyebutkan kata “terduga” terhadap orang yang ditangkap oleh aparat keamanan karena tidak semua orang yang ditangkap oleh aparat secara otomatis adalah pelaku terorisme. Mengunakan kata “terperiksa”  untuk mereka yang sedang diselidiki atau disidik oleh polisi. Menggunakan kata “terdakwa” untuk mereka yang sedang diadili dan “terpidana” untuk mereka yang perkaranya telah diputus oleh pengadilan.

Khusus untuk media penyiaran, Imam Wahyudi mengingatkan agar wartawan dan media penyiaran dalam melakukan siaran langsung (live)  tidak melaporkan secara terperinci atau detail peristiwa pengepungan dan upaya aparat dalam melumpuhkan para tersangka terorisme.

Siaran secara langsung kata Imam, dapat memberikan informasi kepada para terduga teroris mengenai posisi dan lokasi aparat keamanan secara real time dan hal ini bisa membahayakan keselamatan anggota aparat yang sedang berupaya melumpuhkan para teroris.

Bahkan kata Imam, wartawan dalam memilih pengamat sebagai narasumber wajib selalu memperhatikan  kredibilitas, kapabilitas, kompotensi terkait, latar belakang, pengetahuan dan pengalaman nara sumber. (Sudirman D)   


Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

yusril

Undang-undang dan Perda Syariah: Ada atau Tidak Ada?

Oleh: Yusril Ihza Mahendra (Seri tulisan merespon esai Denny JA: NKRI Bersyariah atau Ruang Publik ...

Kemendagri Jelaskan Kedua Kasus KTP-el Adalah Murni Tindak Pidana.

Jakarta- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), through Mendagri Tjahjo Kumolo Beroperasi Langsung menyampaikan penjelasannya, Berlangganan penanganan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *