Home » METRO KENDARI » Data Anti Mortem dan Post Mortem, Apa itu ?
Tim SAR Evakuasi Korban Marina 2
Tim SAR Evakuasi Korban Marina 2

Data Anti Mortem dan Post Mortem, Apa itu ?

Setiap terjadi kecelakaan besar baik pesawat udara, kapal ataupun bencana alam ada istilah anti mortem dan pos mortem. Pencarian korban yang disertai identifikasi melakukan pengumpulan data anti mortem dan post mortem untuk mengenali korban yang sering kali tidak bias lagi dikenal dengan kasat mata, karena mayatnya sudah membengkak, bahkan rusak.

Lalu apa sebenarnya data anti mortem dan post  mortem ?

Ante mortem adalah data diri korban sebelum meninggal dunia. Data-data ini dapat diperoleh melalui keluarga atau kerabat dekatnya. Metode pengumpulan data ante mortem biasanya dilakukan dengan 2 metode, metode sederhana dan metode ilmiah. Metode sederhana biasanya akan dilakukan pengumpulan ciri-ciri fisik, perhiasan dan pakaian yang dipakai sebelumnya, serta foto dokumentasi. Metode ilmiah biasanya dilakukan dengan pengumpulan data mengenai sidik jari, rekam medis, cairan tubuh seperti darah, air mani, air liur, keringat, dan kotoran di tempat kejadian perkara, ordontologi (gigi), antropologi, biologi.

Sidik jari ante mortem dapat diperoleh melalui data pribadi yang dimiliki seperti KTP, Ijazah, SIM atau yang lainnya. Jika metode tadi tidak dapat dilakukan, maka akan dilakukan metode yang lebih ilmiah, yakni pemeriksaan DNA. DNA ante mortem dapat diambil dari keluarga ataupun saudara kandung terdekat.

Setelah data ante mortem dikumpulkan, data ante mortem akan dicocokan dengan data post mortem. Data post mortem merupakan data identifikasi yang diperoleh dari jenazah yang ditemukan.Secara harafiah istilah ante mortem memilki arti data jenazah sebelum kematian. Sedangkan istilah post mortem adalah data jenazah sesudah kematian.

Tim forensik biasa melakukan identifikasi dengan cara mencocokkan data ante mortem dan post mortem untuk mengenali jenazah.

Pengumpulan data ante mortem biasanya meliputi dua metode. Metoda sederhana menyangkut visual, perhiasan, pakaian dan dokumentasi dan Metoda ilmiah menyangkut sidik jari, medik , serologi, odontologi, antropologi, biologi.

Sidik jari bisa ditemukan pada surat pribadi semacam SIM, Ijasah, KTP. Sementara untuk DNA bisa dicocokkan dari keluarga sekandung korban semisal orangtua dan anak-anak. Dan tanda-tanda lainnya, seperti tanda lahir, biasanya dikenali secara detail oleh keluarga terdekat. Sementara susunan dan struktur gigi bisa didapatkan recordnya dari dokter gigi yang merawat gigi korban yang bersangkutan.

Biasanya tim DVI (Disaster Victim Identification) memeriksa gigi saat korban yang ditemui jasadnya sudah hancur. Identifikasi melalui gigi, merupakan salah satu metode indentifikasi dasar (primary indentifiers). Namun hanya akan berhasil bila ada data lengkapnya. Data yang dimaksud, yaitu berupa data gigi ante mortem serta dimilikinya standar pemeriksaan kedokteran gigi forensik yang baku.

Sayangnya sebagian besar penduduk Indonesia belum berkesadaran memiliki catatan data gigi. Karena umumnya orang Indonesia jarang pergi ke dokter gigi. Kurang memahami pentingnya kontrol rutin ke dokter gigi. Entah karena praktek dokter gigi dikenakan biaya mahal, hingga kerap tak terjangkau oleh sebagian masyarakat, atau memang karena mitos berobat ke dokter gigi  selama ini terkesan sakit dan menakutkan.

 Setelah proses antemortem ini lengkap, saat korban ditemukan maka akan dicocokkan data yang ada dengan korban yang ditemukan. Proses mencocokkan ini yang disebut post mortem. Bila sudah cocok, proses identifikasipun selesai.

Sampai disini keluarga korban sudah bisa yakin, bahwa korban adalah keluarga mereka. Meskipun terkadang secara fisik jenazah agak sulit dikenali, karena misalnya hangus terbakar. Namun dari lengkapnya ante mortem, jenazah seperti ini biasanya masih bisa dikenali dari struktur giginya. Ini karena gigi adalah bagian terkeras dari tubuh manusia yang komposisi bahan airnya sedikit dan sebagian besar terdiri atas bahan anorganik sehingga tidak mudah rusak.

 Karenanya tak ada salahnya kita menyimpan dengan baik file mengenai record kesehatan orang-orang terdekat kita. Karena mungkin saja suatu saat bisa berguna dan kita butuhkan.(Auliaguardi/ kompasiana


Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

HPN

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

bangsoet mysultra

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *