Home » Berita Terpopuler » Anjing,Tumbuhan Hijau Dan Surgawi

Anjing,Tumbuhan Hijau Dan Surgawi

                                                                                 Oleh: Makmur Ibnu Hadjar

Sebuah karya dalam bahasa Prancis oleh Amadau Hampate, seorang yang berkebangsaan Mali dengan judul “  Vie et Ensiegnement de Tierno Bokar; Le Sage de Bandiagara, yang selanjutnya diterjemahkan dalam bahasa Inggeris oleh Charles Le Gai Eaton, seorang muallaf berkebangsaan Inggeris. Karya ringkas tersebut mengkritisi cara pandang kita kepada seekor anjing dan sebatang tumbuhan, dalam prespektif syariat dan tingkah laku sosial kita (muamalah) dalam ber-Islam dan tingkat komitmen (kesetiaan) kita kepada Alkhaliq, Allah Subhana Wata’ala. Karya  tersebut adalah interaksi tiga mahluk  ciptaan Allah dalam suatu realitas kehidupan sehari-hari yang bersahaja. Kami sajikan karya ini sebagai renungan ramadhan, guna memperkaya empati kita, dengan metafora-metafora ke-Ilahian, simak berikut ini :

Pada sutau hari aku bermaksud mengurus ladangku , ditemani oleh anjing kecilku, musuh yang paling dibenci oleh kera-kera yang merusak kebun. Saat itu cuaca sedang panas terik. Aku dan anjingku begitu kepanasan sehingga nyaris tidak dapat bernapas.Aku mulai berfikir bahwa diantara kami akan segera jatuh pingsan. Kemudian,- terima kasih Tuhan, aku melihat sebuah pohon Tiayki, yang cabang-cabangnya membentuk kolong tumbuh-tumbuhan hijau yang segar. Anjingku menggonggong kegirangan dan berlari ketempat teduh itu, bukannya diam disana, ia malah kembali padaku sambil lidahnya terjulur . Menyaksikan bagaimana panggulnya berdebar-debar, aku sadar bagaimana ia benar-benar kehausan. Aku berjalan ketempat teduh itu. Anjingku sangat girang. Sesaat kemudian, aku bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Binatang malang itu merintih sedih, tetapi tetap saja mengikutiku, dengan ekor yang melipat diantara kaki-kakinya. Ia tampak putus asa, tapi tetap mengikutiku, apapun yang akan terjadi.

Kesetiaan ini sangat menggugahku. Bagaimana kita dapat menilai kesetiaan binatang ini untuk mengikutiku, bahkan  sampai  mati, meskipun ia tidak dipaksa untuk berbuat begitu. Ia setia kepadaku, kataku kepada diri sendiri, karena ia menganggap aku sebagai tuannya dan mempertaruhkan jiwanya hanya untuk berada di sampingku.

‘Ya ALLAH, Tuhanku’  aku berseru, sembuhkanlah jiwaku yang sakit !. Jadikanlah kesetiaanku kepada-Mu seperti kesetiaan dari mahluk yang aku sebut, secara hina, anjing ini. Berilah aku, sebagaimana telah Engkau berikan kepadanya, kekuatan untuk menguasai hidupku agar aku dapat melaksanakan kehendak-Mu dan mengikuti, tampa bertanya, kemana aku hendak pergi? – jalan yang Engkau berikan petunjuk kepadaku!. Aku bukan pencipta anjing ini, namun ia mengikutiku dengan jinak, dengan mengorbankan penderitaannya. Engkaulah, Tuhan, yang telah memberi karunia kebajikan itu. Berikanlah ya Tuhan , kepada semua orang memintanya dari-Mu – sebagaimana aku, yaitu kearifan dan cinta, serta keteguhan untuk berderma.

Kemudian ia mengikuti  jejakku kembali berlindung di tempat teduh tadi. Dengan penuh kegembiraan, sahabat kecilku berbaring menghadapku sehingga matanya menatap kearahku, seakan-akan ia ingin bicara kepadaku. Dalam keadaan dilindungi dan disegarkan oleh tempat teduh ini, aku mulai merenung. Tempat teduh yang dibentuk oleh  tumbuhan hijau, memberi kepada semua wilayah jangkauannya, membangkitkan tenaga  yang menetralisir penyebab mati lemas yang disebadkan oleh sinar matahari. Ada unsur penyegaran dan penyembuhan dalam tumbuhan hijau yang diperlukan untuk mempertahankan hidup manusia dan binatang”.

Prinsip ini, membuat aku berfikir tentang surga, sebagaimana secara metafora digambarkan dalam Al-Qur’an. Hijaunya surga, adalah tak lain adalah suatu realitas spritual di mana tetumbuhan hijau di dunia ini merupakan wujud pada tingkat material. Aku paham, bahwa-surga yang digambarkan merupakan suatu taman simbolis, dimana tumbuhan hijau bersifat kekal. Tumbuhan hijau ini menghaluskan sinar yang memancar kepada  kita dari cahaya Ilahi, yang terlalu kuat untuk ditahan.

Ihwan muslim, yang saat ini sedang melaksanakan ibadah puasa ramadhan, sambil kita memiliki harapan mendapat karunia serta kasih sayang Illahi Rabbi,  untuk memasuki taman surga kelak, bangunlah sikap penghargaan kepada tumbuhan, jangan sampai merusaknya – yang paling kecil sekalipun, tampa alasan jelas dan rasional,  karena sesungguhnya ia merupakan simbol yang ditarik oleh ALLAH dari bumi untuk pelajaran, sumber makanan serta kesenangan kita. Ini benar-benar aksiomatik, artinya  kita  tidak punya ruang logika (akal sehat)  untuk membantahnya, kecuali jika kita, secara spritual- tidak bisa membedakan antara surga dan neraka. Wallahuallam bissawab*.

 

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022

Badan Pekerja Pilih Sembilan Anggota Dewan Pers 2019-2022 Jakarta – Badan Pekerja Pemilihan Anggota (BPPA) ...

Bangsoet : Dari Profesi Wartawan Dapat Jadi Apapun

Jakarta, Kamis 25/10: Ketua DPR Bambang Soesatyo yang pernah menjadi wartawan mengungkapkan, profesi untuk membuka ...