Home » Headline » ‎Kajian Model Ketahanan Pangan RT Nelayan Perlu Perbaikan
DETIL LAMPIRAN Dr-Muliha-Halim-dari-LPPM-UHO-memaparkan-kajian-model-ketahanan-pangan-rumah-tangga-nelayan-masyarakat-pesisir-di-kabupaten-Kolaka

‎Kajian Model Ketahanan Pangan RT Nelayan Perlu Perbaikan

KOLAKA,MYSULTRA.COM – Kajian model ketahanan pangan Rumah Tangga (RT) nelayan masyarakat pesisir di kabupaten Kolaka, yang disampaikan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Haluoleo,‎ masih membutuhkan perbaikan.

Dalam seminar akhir yang dilaksanakan senin (7/11/2016) di aula Bappeda Kolaka, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kolaka Dr H Alva Talanipa dan staf khusus Bupati Fachruddin Rahim me‎ngkriti dan memberikan saran untuk perbaikan dokumen kajian model ketahanan pangan RT nelayan tersebut.

Alva Talanipa mengkritisi kesimpulan yang disampaikan, karena dinilai belum menjawab judul yang ada dan masih bersifat umum atau global. Dia menyayangkan saran yang disampaikan pada saat seminar awal tidak dimasukkan dalam dokumen seminar akhir.

Menurut Alva, sesuai judul yakni kajian model ketahanan pangan, justru dalam dokumen itu tidak ada disampaikan model seperti apa yang harus dibuat dipesisir, guna mewujudkan ketahanan pangan bagi RT nelayan.

Hal sama ditegaskan Fachruddin Rahim yang menegaskan, kalau ‎melihat judul yang diberikan, dalam dokumen itu tidak membuktikan teori. Seharusnya pihak peneliti membuat teori dengan membuat model, meski hanya sederhana. Peneliti seharusnya membandingkan nelayan yang ada di utara, tengah dan selatan. Kemudian ada kebijakan yang direkomendasikan untuk dilaksanakan pemda Kolaka. Untuk penelitian sendiri diniai sudah bagus, apalagi data yang dimunculkan sudah banyak.

“Harus ada kesimpulan rawannya berapa persen, harus menunjukan pariabel atau elemen yang mempengaruhi ketahanan pangan,” kata Fachruddin.

Terhadap saran dan kritik dari Alva Talanipa dan Fachruddin, peneliti UHO Dr Muliha Halim mengungkapkan kalau mereka bukan memasukan model, tapi meneliti model ketahanan pangan apa yang ada di masyarakat, sekaligus melihat apakah mereka masuk rawan pangan atau tidak.

Dari hasil penelitian, terdapat dua model yakni yang berprofesi sebagai petani dan sekali-kali melaut yang disebut Petani Padi Sawah, serta orang yang berprofesi pelaut tapi juga memiliki kebun yang disebut Nelayan Petani. Dalam penelitian ini mereka tidak menghasilkan model, tapi meneliti model yang digunakan masyarakat nelayan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, paling rawan pangan adalah ‎petani padi sawah di bandingkan nelayan petani. Karena mengandalkan beras sebagai makanan pokok, jika terjadi gagal panen akan terjadi kerawanan pangan bagi petani sawah. Begitupun jika terjadi ombak tinggi, ancaman kerawanan pangan bagi nelayan petani cukup tinggi.

Dr Muliha Halim menyimpulkan bahwa sebagian besar RT di Kolaka mengkonsumsi beras ‎sebagai pola pangan pokok tunggal, serta merekomendasikan untuk mensosialisasikan pemanfaatan pangan lokal berupa sagu, keladi dan lainnya sebagai menu harian bagi masyarakat.

Penulis: (A Arsyad)

 

Komentar

Komentar

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...

About mysultra

Avatar
Editor: Sudirman Duhari

Baca Juga

Undang-undang dan Perda Syariah: Ada atau Tidak Ada?

Oleh: Yusril Ihza Mahendra (Seri tulisan merespon esai Denny JA: NKRI Bersyariah atau Ruang Publik ...

Kemendagri Jelaskan Kedua Kasus KTP-el Adalah Murni Tindak Pidana.

Jakarta- Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), through Mendagri Tjahjo Kumolo Beroperasi Langsung menyampaikan penjelasannya, Berlangganan penanganan ...